http://rfclegal.com

Audrey sampai di pengujung kesabarannya, ia tak tahu lagi harus melakukan apa untuk meyakinkan Astu bahwa hidup bukanlah soal kebahagian dan kepuasan hati saja. Audrey mungkin bisa mengerti, tapi tidak dengan kedua orang tuanya. Mereka harus bersepakat untuk hal yang semestinya dijalani sampai mati.

Astu selalu menunjukkan kebahagiannya, ia merasa lega dan merdeka kala satu per satu hati dan pikiran anak-anak kampungnya dapat ia buka. Bertahun-tahun ia menggelar buku di balai kampung, mengajari anak bertanam, bertahan untuk menghadapi masa depan yang makin ganas mengempas.

“Aku tahu kau puas, kebahagian itu terpancar dari matamu. Tetapi semua ada waktunya Astu, jika kau tak menjalani takdir sesuai masanya, akan ada takdir yang tak matang atau terlewat untuk kau jalani,” kata Audrey, ia memegang dan mengusap lembut tangan Astu namun berteriak dalam batin, “menyerahlah!”

Hatinya memang lembut pada anak-anak kampung, tetapi kelembutan itu bukanlah yang dibutuhkan untuk menata hidup bersama Audrey. “Apa yang kita cari? Bukankah Tuhan tak sedang bercanda menciptakan kita? Kita punya tujuan penciptaan Audrey. Kita butuh uang, tapi apalah artinya jika kau tak pernah berbagi pada dunia,” Astu menunjukkan dominasi seoarang lelaki.

Lima tahun lalu Audrey melihat Astu begitu dekat dan penuh cinta pada anak-anak, tak seperti banyak lelaki lain yang tak peduli pada sesama dan hanya dengan kepulan sebatang rokok ia menunjukkan kejantanannya. Beberapa kali berkegiatan bersama cukup sudah bagi Audrey menentukan pilihan.

“Aku tak butuh uangmu, kita bisa mencarinya bersama, aku juga tak gentar hidup penuh cucuran keringat. Tetapi aku butuh rasa aman bahwa kau bisa menjaga anakku kelak tanpa kau meninggalkan cintamu pada dunia. Letakkanlah sejenak keangkuhanmu itu Astu, jadilah rendah hati untuk berani menerima duka bahwa memang kita berhadapan dengan masa yang tak gampang, masa untuk mencintai tanpa perbuatan, melakukan sesuatu yang tak kau sukai — berjuang.”

“Kau pikir dengan jabatan dan uang kau bisa mencintai semesta?” potong Astu yang membuat Audrey menghela nafas dan tersenyum, Audrey lebih sabar dan mengerti keangkuhan kekasihnya itu. Ia tak ingin membalas, ia hanya semakin merekahkan senyum yang membuat Astu tak kuasa menegakkan angguh.

Astu memang punya kegelisahan atas duka lara anak-anak kampung yang renta, mereka diperlakukan tidak semestinya, kekasaran orang tua meruntuhkan kepercayaan diri mereka, pemuda desa yang bertatto dan bersemir menjadi panutan mereka, putus sekolah, dan keyakinan Astu adalah anak-anak kampung itu tak akan memiliki tempatnya, mereka hanya akan menjadi sampah yang berserakan. “Kau tahu Audrey, satu saja dari anak itu selamat, kita sudah selamatkan satu generasi.”

Audrey tak bergetar akan ucapan itu, bahkan ia tak menerima kata “kita”. “Kau sudah ucapkan itu Astu dan aku percaya. Aku tak meminta cintamu dari mereka, bahkan jika kau lebih mencintai semesta aku pun tak mengaduh. Tetapi kita hanya bisa memberi apa yang kita punya, jika kau tak punya apa-apa lalu apa yang bisa kau berikan?”

“Hati dan waktuku sudah kuberikan,” bela Astu.

Audrey mendekatkan selembar kertas dengan kedua jarinya untuk Astu, selembar kertas yang sudah mereka ketahui isinya. Hanya senyum yang bisa diberikan Audrey, seolah ia sedang memohon Astu untuk mengeringkan lautan. Namun Astu semakin kecut, menatap Audrey tanpa senyum sembari menghela nafas lalu membuang pandangan jauh ke belakang Audrey. Kekecutan yang tak pernah ia tampilkan pada anak-anak, sebab ia tak mau anak-anak tahu kalau ia juga memiliki ketakutan seperti anak-anak pada gelap.

“Aku sudah siapkan curriculum vitae terbarumu, semua kopian sertifikat, juga lamaran yang tinggal kau edit,” ucap Audrey yang tak lagi tersenyum, menantang Astu menuju gelap bersamanya. “Aku sudah memilihmu, aku berharap padamu, aku perlu wujud cintamu padaku,” tambahnya.

Astu tertunduk, memandang lantai seolah jurang, ia harus putuskan apakah tetap atau menyebarangi jurang itu bersama Audrey. Kira-kira sepuluhan menit mereka terdiam, Astu mengusap-usap kening dengan kedua jarinya, Audrey sedari tadi menyelipkan jari-jari tangannya diantara sofa dan pahanya untuk menghangatkan tubuhnya tapi tidak membuat hatinya hangat.

Cinta mereka sedang mengeras menuju beku. Di relung yang dalam, keduanya ingin saling menghangatkan agar cinta itu kembali lembut. Tetapi Astu menggeser kertas itu menjauh darinya, telah ia putuskan untuk menjatuhkan cintanya yang beku itu kemudian remuk berkeping. Audrey tak bergegas memungut serpihan cinta Astu, ia tersenyum pada Astu yang tak memandangnya sembari mengemasi benda-bendanya dari atas meja, termasuk kertas itu. Audrey juga sengaja menjatuhkan cintanya di hadapan Astu.

Audrey tak tahan memandang serpihan cinta mereka yang bercampur, begitu indah dengan warna-warni kisah mereka. Ia menghampiri Astu yang sedari tadi berpaling  muka, tanda tak berani berperang rasa. Ia memeluk Astu dari belakang, sisa-sisa serpihan cintanya mencair melalui matanya, ia semakin mendekap Astu sehingga cairan yang sama serasa penuh di mata kekasihnya itu. Audrey mencium sebelah pipi Astu, menumpahkan cintanya di bagian yang dulu sering ia cubit penuh gemas dan sayang, kemudian pergi. Ia setangah berlari sembil mengusap cintanya yang tumpah. Astu memandang Audrey untuk terakhir kalinya, cintanya pun tumpah, melewati rambut halus di dagunya.

Audrey melemparkan tubuhnya ke ranjang, ia menangis sejadinya, membenamkan wajahnya ke bantal dan berteriak sejadinya. Baru ia sadari, ternyata sisa cinta dalam hatinya lebih banyak dari yang ia pecahkan tadi, ingin ia menahan agar cinta itu tak terus deras namun ia tak mampu, seolah cinta itu memang ingin keluar.

Astu masih di tempat yang sama, cinta itu tak terlihat tumpah dari matanya, orang kira ia masih mampu menyimpannya. Tetapi cinta itu keluar dalam rupa nafas, setiap hembusan nafas adalah cinta dari hatinya dan terus menghabis. Ia juga ingin menahannya namun tak mampu dan cinta itu terus menghembus.

Tiga tahun berselang Audrey harus menyesuikan tubuhnya membonceng Yamaha R1M, jognya lebih keras dari Vespa Astu, juga jauh lebih tinggi. Ia juga membiasakan diri untuk memeluk erat Wilfred, bukan karena kedekatan tetapi karena takut dengan kecepatan 100 km per jam atau lebih. Ia sebenarnya lebih menikmati 40 km per jam bersama Astu, mereka masih bisa tertawa sambil makan bakso tusuk atau cilok.

Sebagai manager pemasaran Audrey kerap menggunakan jasa perusahaan event organizer milik Wilfred Kinara. Wilfred selalu memastikan project yang ia jalankan berjalan lancar, terlebih jika berurusan dengan perusahan besar tempat Audrey bekerja. Beberapa kali mereka bertemu untuk memastikan kebutuhan dan kewajiban kedua perusahaan berjalan lancar.

“Drey, makan yuk,” ajak Wilfred saat Audrey membuka pintu kamarnya. Mata Wilfred melirik belahan dada di depannya, Audrey yang hanya berpakaian tidur membuat dadanya berdegub.

“Boleh, masuk dulu deh, aku ganti baju dulu,” tanggap Audrey yang melihat Wilfred sudah berpakaian rapi.

Wilfred menunggu di selasar kamar dan tak lama kemudian Audrey siap dengan jeans hitam dan kemeja merah maroon.

Mereka menuju sebuah mobil Luxio bertulis besar Kinara Making a Great Event. Audrey sering melihat mobil itu digunakan crew panggung. Saat Audrey masuk, hanya dua kursi depan yang kosong sedangkan sisanya berisi macam-macam box. Mobil yang sepertinya tak pantas dipakai oleh seorang owner.

Wanita dewasa pasti menduga, ajakan semacam ini adalah proses pendekatan yang dilakukan seoarang lelaki, wanita dewasa juga bisa menduga apakah ujungnya pelaminan atau hanya cinta semalam. Tapi Audrey tak ingin menduga-duga, ia tahu resikonya namun tak mengingkarinya.

Wilfred melepaskan jaketnya, nampaklah tatto dari lengan hingga pergelangan kirinya, tattoo yang padu padan dengan posturnya. Tatto yang baru sekali dilihat Audrey karena rekan kerjanya itu selalu berlengan panjang saat bekerja.

“Ini mamaku, ini adikku, ini gambar simbol luka Yesus tersalib,” papar Wilfred yang melihat Audrey melirik seni di tangannya itu. Seolah ia ingin segera mengungkap rasa dan rupa sebenarnya pada Audrey, padahal keduanya tak pernah tahu sejarah cinta masing-masing. Bisa jadi satu diantaranya telah berlabuh.

Sebagai wanita yang pernah menantang lelaki untuk bersikap jantan, Audrey tak lagi menutup diri pada segala kemungkinan, termasuk menjalin relasi dengan Wilfred yang tak ia percayai sebagai lelaki baik. Wilfred selalu tampil maksimal dan bertutur baik dalam rapat-rapat penting, namun ia hanya bercelana pendek atau celana lusuh dengan sepatu Rei sambil menghisap rokok di backstage bersama anak buahnya.

Bagi Audrey tattoo adalah simbol negatif, hanya orang berdefisit afeksi tinggi yang merajah tubuhnya, namun ia tersentuh atas pilihan gambar di lengan Wilfred. Audrey juga merasakan hal-hal kecil seperti mengendarai mobil crew, makan di pinggir jalan, meminta rokok pada crew, sebagai pencitraan di depannya, sama seperti laki-laki lain yang berkamuflase untuk mencuri perhatian. Audrey kagum akan kesederhanaan itu sekaligus cemas jika ternyata semuanya palsu.

“Drey, besok aku mau ke Jogja,” kabar Wilfred melalui telpon.

“Oh ya, semoga lancar ya project-nya,” tanggap Audrey.

“Kirimi aku alamat rumahmu ya, aku mau ketemu Bapak buat melamar kamu,”

Perasaan Audrey carut-marut, lima detik dalam diamnya terputar secara ajaib perjumpaan hingga kedekatan mereka berdua. Ia tak tahu harus menanggapi apa, Wilfred terlalu berani dan lugas baginya, tak pernah ia berpura-pura baik karena ia tak memiliki kebaikan lain selain kejujuran itu sendiri.

“Gila kamu Wil, kita ini baru kenal!” Audrey memilih menanggapinya dengan terkejut.

“Ketemuan di bioskop ya,” jawab Wilfred yang semakin jauh dari jelas.

Audrey bersiap dari apartemennya, ada jalur khusus bagi penghuni untuk menuju mall. Audrey melihat crew Kinara di satu lantai sebelum bioskop dan sudah ada Wilfred di depan bioskop. Audrey bingung harus bersikap bagaimana, tetapi Wilfred bersikap seolah 20 menit lalu tak ada percakapan bersama Audrey.

“Lima menit lagi mulai, kita langsung masuk ya,” ajak Wilfred sembari melepas jaketnya dan memakaikannya pada Audrey yang nampaknya melupakan jaket karena terlalu bergegas. Tak sekedar meletakan jaket di pundak Audrey, Wilfred sungguh seperti memakaikan jaket pada gadis mungil dengan memandu Audrey menelusupkan tangannya, sempat tangan Wilfred menyenggol buah dada Audrey ketika memasangkan kancing, namun keduanya tak menghiraukannya. Wilfred menggandeng Audrey seperti pada anak kecil pula.

Jumanji: Welcome to the Jungle adalah film yang dipilih Wilfred tanpa persetujuan Audrey. Audrey masih bingung harus bersikap apa, lelaki di sampingnya sungguh membuatnya beku, ia khawatir sebentar lagi akan runtuh dan tertampung sepenuhnya ke dalam hati Wilfred. Wilfred serius kala adegan menegangkan, terpingkal-pingkal kala adegan lucu, tapi Audrey tak bergeming sedikitpun. Bahkan ketika Wilfred menggenggam tangannya.

Mereka menuju ke resto yang berseberangan dengan stage acara Kinara. Wilfred mengambil HT dari tas dan kembali menghidupkannya.

“Kamu pesan dulu ya, aku dipesankan aja,” pinta Wilfred sambil membukanan buku menu di dekat Audrey.

Stage masuk stage,” ucap Wilfred melalui HT.

Stage masuk bang,” jawab seorang crew.

“Sepuluh menit lagi show time, itu lighting sebelah kanan masih ada yang belum nyala, sound juga belum balance. Gua yang beresin atau loe bisa beresin sendiri?” pungkas Wilfred.

“Siap bang, siap bang, kami bereskan bang,” balas crew sedikit terbata.

Seketika itu pula ada beberapa crew mengecek kabel dan juga memanjat lighting yang dimaksud Wilfred.

“Gimana? Sudah pilih menu?” Tanya Wilfred dengan nada berbeda pada Audrey.

“Steamed Salmon mau?” Audrey bertanya balik.

“Oke,” jawab Wilfred singkat.

Setelah pramusaji mengambil pesanan mereka, Wilfred masih sibuk mengecek kesiapan panggung dan pengisi acara. Dari percakapan itu Audrey mengira semuanya lancar. Hingga makanan mereka tiba dan bertepatan dengan dimulainya panggung Kinara yang gegap gempita dan meriah.

“Oke, mari kita makan,” ajak Wilfred sekaligus memutar volume HT hingga off.

“Kamu nggak kesana?” Tanya Audrey.

“Semua sudah beres kok, acara sudah berjalan,” jawab Wilfred.

“Mana alamat rumah kamu?” Buka Wilfred tanpa basa-basi.

“Wilfred, kamu serius?” Tanya Audrey penuh ketenangan, kemeriahan panggung Kinara begitu senyap kala ia berkata.

“Serius,” jawabnya sambil tetap mengunyah makanannya.

“Audrey, kita sama-sama dewasa, tak perlu lagi berbelit dan rumit untuk hal-hal yang sederhana. Untuk komitmen ini aku tak peduli pada masa lalumu, baik itu indah atau kelam, biarlah menjadi pilihanmu sendiri apakah untuk dikenang atau dibuang. Namun jika kau ingin tahu tentang masa laluku, akan ku ceritakan. Di panggung kehidupanku ini aku sudah bertemu ribuan orang, brengsek hingga bijak, ratusan malam telah kuhabiskan bersama wanita, macam-macam pil telah kutenggak dan menyanderaku. Aku bukan lelaki baik-baik Audrey,” Wilfred berkata.

Audrey terdiam penuh atensi, ia terbiasa menjadi pendengar yang baik, tak setitik pun kata-kata Wilfred membuat ia salah tingkah. Meski dalam hatinya ada ketakutan, ia tak lagi menuju gelap, tapi telah bersama gelap itu sendiri.

“Dua tahun lalu aku melihat seorang perempuan yang begitu lembut memimpin bawahannya, tak pernah ia membentak-bentak sepertiku pada anak buahku. Aku anggap kelembutan itu hanya untuk pekerjaannya menjadi lancar. Aku melihat perempuan itu beberapa kali misa pagi di gereja depan kantorku, aku selalu menikmati pemandangan itu dari ruang kerjaku yang masih bertebaran bebotolan. Aku kira ia rajin karena sedang susah, tetapi ia tak henti-hentinya misa pagi.

Suatu pagi aku terkapar dan sakau, sambil memegang bong aku melihatmu di sebarang, ku banting bong itu. Dengan tubuh dan hati yang gontai aku menyeberang dari gelap ke terang. Aku tak peduli kotbah orang suci di mimbar, aku hanya berlutut di sudut paling belakang kekat patung Pieta dan menangis sejadinya, air mata membanjiriku, ia ingin membersihkan segala dosa dan karmaku.

Pada titik itu aku melihatmu, sambil membuat tanda salib dengan air suci, kau memandangku dengan senyum. Jiwa yang hampir kering ini telah tersiram air mata, namun ia bersorak kala senyummu memancar bagai mentari.

Sejak itu aku tak lagi menghisap benda terlarang itu, aku juga tak lagi menghabiskan malam dengan para perempuan. Aku hanya menghabiskan malam ke malam dengan kemerincing botol yang telah kutelan isinya. Aku menderita sebagai jiwa yang gersang, namun lebih menderita kala aku tahu aku gersang. Aku menderita menahan segala nafsu untuk memuaskanku.

Audrey, hidupku memang dari panggung ke panggung, namun dua tahun ini kujalani dengan hening, kuhabiskan waktu dengan memejamkan mata dan tarikan nafas, memunguti cinta Pencipta yang selama ini berserakan ku abaikan. Aku hampir mati Audrey, namun Pencipta mendatangkanmu pada dua detik sebelum aku mati, dan aku tak ingin melewatkan penyelamatan Pencipta yang bisa jadi kali yang terakhir bagiku.

Aku me-lobby atasanmu agar selalu menggunakan Kinara, agar aku dapat melihatmu lebih dekat. Aku selalu meminta kamar di seberang kamarmu, agar aku bisa mengetuk dan mengajakmu makan. Aku merendahkan diri serendah-rendahnya dengan menghampirimu, sebab terbiasa aku dihampiri dan memilih,” ungkap Wilfred Kinara yang sudah beberapa waktu meneteskan air pada tangan bertattonya.

“Wilfred, aku bukan ahli jiwa, aku juga tak memiliki banyak cinta untuk menyirami hatimu yang tandus itu. Semua yang kau ceritakan bukanlah aku, ia adalah Pencipta sendiri yang sedang memakaiku. Jika kau datang untuk sembuh, maka bukan aku orangnya. Hanya kau sendiri yang dapat membuat sumber air di hatimu, hanya kau yang dapat menggali sedalam-dalam nya,” tanggap Audrey.

Wilfred mengeluarkan selembar kertas kecil dari kantongnya, beserta sebuah pena ia menyodorkannya. “Tulislah alamat rumahmu, aku akan menemui Ayahmu,” pinta Wilfred. “Wil, ayahku seorang PNS, ia orang yang tertib dan punya standar moral yang tinggi, aku takut kau … ” kata Audrey dipotong Willfred, “Biar itu menjadi urusanku. Sekalipun aku gagal, biarlah ayahmu mendapatkan sekali saja pengalaman untuk tidak memandang orang dari tampilnya,” pinta Wilfred lagi.

Pada selembar kertas itu terputar tangisnya yang tumpah bersama Astu, tanpa sadar ia telah memegang pena meski tak tahu harus menuliskan apa. Ia ragu orang tuanya dapat menerima lelaki bertatto itu, ia ragu Wilfred tidak mengulang salah, ia ragu perubahan Wilfred hanya sementara dan ia menghabiskan sisa hidupnya bersama monster. Tapi, ada setitik keyakinan yang cukup mendorongnya menulis alamat rumah.

Audrey menggeser kertas itu lagi, kedua tangan Wilfred menggenggam tangan Audrey, sesekali ia mengusap air mata yang sedari tadi mengalir. Ekspresi tubuh Wil itu seolah-olah ia sedang meneriakan rasa syukur yang teramat dalam pada semesta.

“Pak, besok teman adek mau ke rumah, Bapak nggak ada acara tho?”

“Duh nok, besok Bapak sama Ibu kondangan ke Semarang e, itu temanmu nggak datang dengan kamu?” suara Ayah Audrey.

“Nggak Pak, dia datang sendiri,” balas Audrey.

“Bapak pulang malam, kalau mau ya senin sore nok,” jawab Ayah memberi alternatif.

Njih Pak, aku sampaikan ke teman Audrey ya.”

Tiket sudah dibeli Wil untuk hari besok, ia tetap berangkat. Hanya pagi hari Wil pamitan pada Audrey, setelah itu tak ada kabar hingga esok harinya. Ia hanya melihat Wil mengunggah foto Gereja St. St Antonius Kotabaru.

Ia cemas ayahnya akan menyalahkannya atas pilihan tersebut, namun ia meyakini penerimaan terhadap Wil adalah sebuah langkah yang luar biasa, sebab Wil yang brengsek itu dengan beraninya memohon restu menjalin hubungan yang serius, juga ayah yang entah menggunakan logika apa jika menerima Wil yang demikian tampilannya.

Nok, kamu itu ketemu dimana dengan Mas Wilfred?”Tanya Ayah.

“Dia itu urakan, bertatto, pengalaman hidupnya kelam, mau ditaruh mana wajah Bapak dan Ibu nok?” kata Ayah tanpa menekanan selayaknya orang yang marah, juga tanpa mengharapkan jawaban.

Ayah merasa terkejut kala melihat dia pertama kali, ia datang dengan Go-Jek, celananya robek-robek, ya meski kelihatannya rapi dengan kemeja biru muda berlengan panjang, tapi tattonya masih samar-samar terlihat. Ibumu sudah menyedikan makan malam karena kami menduka pesan apa yang akan disampaikan. Ayah punya rasa enggan dan tidak menyukai Mas Wil sejak awal, tapi Ayah melihat ada kejujuan di laki-lakimu itu, jadi Ibu dan Bapak mengajak ia makan malam bersama.

Dugaan kami benar, laki-laki yang tak kami senangi itu nembung kamu nok. Ibumu terpaksa nyenggol Bapak untuk bicara di belakang, Ibumu khawatir sekali ketika dia cerita masa lalunya. Bapak juga tidak siap menerima resiko punya mantu model begitu, apa kata tetangga, apa kata relasi Bapak.

Bapak dan Ibu melihat ada kejujuran dan sikap pemberani dalam dirinya, kata-katanya jujur apa adanya, dia tidak menutupi kelebihan juga tidak malu membuka kebusukan. Nok, masa lalunya memang kelam, silahkan kamu pertimbangkan itu, hanya kalian yang bisa memastikan apakah masa depan kalian saling menghidupi atau saling mengorek luka masa lalu.

Biarlah ini menjadi duka Bapak untuk menghadapi orang-orang di luar sana, Bapak rela demi kebahagiaanmu bersama Mas Wil. Selanjutnya layaklah kamu pertimbangkan matang-matang, Bapak dan Ibu merestui kalian bersama juga tak menggugat pilihanmu untuk menolaknya.

“Pak, makasih ya Pak,” pinta Audrey dalam tangisnya yang lembut.

“Iya nok, asal kamu bahagia,” jawab Ayah.

Audrey sudah tiba di bandara Pkl 19.00, Wilfred mendarat sejam lagi.

Audrey memeluk Wilfred dengan erat, beberapa saat mereka melepaskan kelegaan dan kerinduan, seolah mereka kekasih yang ribuan tahun menanti restu dari dewa.

“Bagimana caranya dapat restu Bapak Ibuku?” Tanya Audrey saat mereka makan malam.

“Tampil dan berkata sejujurnya, aku mencintaimu sekaligus aku tak bisa menjamin kebahagiaanmu, tapi aku akan berusaha keras bahkan di luar kemampuanku. Ketidakyakinan Bapak sangat wajar dan manusiawi, tapi buat apa dia dapat menantu yang sopan, ramah, baik, penuh cinta tapi untuk menutupi kekurangannya – ingin diterima dan diapresiasi, menutupi ketakutannya akan realita bahwa hidup harus berjuang. Aku memberikan alternatif, bahwa aku bukanlah lelaki yang pantas menerima sisa hidupmu, tapi lelaki yang berusaha paling gigih untuk memperjuangkanmu dan anak-anakmu kelak dengan cara dan pemikiran yang realistis dan penuh makna. Aku ingin kita menghidupi dunia, tapi sebelum itu kita harus hidup dengan baik dulu. Kita hanya bisa memberikan apa yang kita punya kan nok,” terang Wilfred.

Audrey tercekat atas ucapan Wil, kita hanya bisa memberikan apa yang kita punya. Wil memberikan dari apa yang ia punya meski itu tak lazim bagi banyak orang.

Audrey dan Wilfred memutuskan menikah bulan depan. ***

Yogyakarta, 23 Juli 2018

Yohanes Bara – yohanesbara@gmail.com

Tertarik pada pengembangan orang muda, isu terorisme, dan jurnalistik.
Bekerja di Majalah BASIS, UTUSAN, dan ROHANI.
Kontributor Pusat Media Damai – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.
Founder TOBEMORE Learning Center.
Mahasiswa Program Pascasarjana Magister Manajemen (SDM) – FE UAJY
.