Garis awal, garis pintu, satu kaki di depan, satu kaki di belakang,
kepala lurus, angin bersidorong. Yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah. Garis jalan, garis belokan, satu kaki membumi,
satu kaki mengawang, kepala lurus, angin bersidorong


A Aziz Manna, Playon, 2016).

Buku puisi Playon berisi dolanan-dolanan bocah. Jumpritan, bendan, jaran debok, petak umpet, layangan, dan kitiran diubah oleh penyair kelahiran Sidoarjo ini menjadi tutur kata sastra. Ia beri judul bukunya Playon, sebab isinya bercerita juga playon, yang artinya berlarian atau bermain. Bukan mlayu yang artinya lari, melarikan diri, pergi minta pertolongan, kalah (S. Prawiroatmodjo, Bausastra Jawa–Indonesia, 1985). Maka ketika seorang ibu menegur anaknya, ia mengatakan, “Ojo playon, Le!” (Jangan berlarian, Nak!) Bukan, “Ojo mlayu, Le!” (Jangan lari, Nak!) Sebab, si anak sedang bermain, bukan melarikan diri dari ibunya.

Henry Manampiring dalam Filosofi Teras (2019) sempat menulis juga tentang anaknya yang sedang belajar berlari: “Saat menulis buku ini anak saya berusia 21 bulan. Jika memungkinkan, saya senang menyempatkan diri berjalan-jalan dengannya di kompleks perumahan saat pagi atau sore hari. Saya senang mengamati bagaimana dia berkembang dari bayi yang tidak bisa apa-apa hingga sekarang sudah mulai berjalan dan mencoba belajar berlari. Ada yang lucu dari caranya berlari yang belum sempurna, tangannya masih lurus menggantung dan belum berayun layaknya cara berlari orang yang lebih dewasa. Dalam proses pertumbuhannya, kelak dia akan mengerti bagaimana cara berlari yang ‘seharusnya’. Sampai ia mengerti cara berlari yang ‘seharusnya’ ia selalu tampak kurang seimbang dan seperti bisa tersandung kapan saja.” Memang, lari bukan sekadar permainan atau olahraga, lari menurut Desmita dalam bukunya berjudul Psikologi Perkembangan (2007) membenarkan pentingnya lari sebagai keterampilan motorik yang penting pada usia kisarat 24 bulan.

Pantaslah, Aziz Manna menjuarai sayembara, sebab sastra berkisah anak yang ia angkat mengajak pembaca menikmat sajak “berlari-lari” ke zaman kanak-kanak. Kita ingat saat berlari dengkul terbentur, tersandung, tercebur, juga skill berlari mumpuni saat mengejar layangan, berlari melintasi persawahan, kebun, pagar tetangga, dengan mendongak tapi tak terjungkal.

Pelatih atlet lari Lalu Muhammad Zohri, Rosida, bependapat lari adalah milik semua orang karena dengan telanjang kaki pun tetap bisa berolahraga lari. “Lari itu sungguh mengasyikan, menyehatkan, dan murah,” begitu pendapat Rosida. Seperti Zohri, anak-anak Nusa Tenggara Barat melatih skill dan mental dengan lari malam, lari antar kampung yang “ilegal” karena dipakai ajang taruhan dan sebab itu sering kali atlet kampung itu malah berlomba lari dengan polisi. Meski begitu, sebagian pelatih malah mendorong anak didiknya berlatih di lari malam, tanpa alas kaki dan rawan cidera itu (Kompas, 9 Juni 2019).

Baca juga: Berpijak pada Kaki Ibu

Bicara biaya lari, murah atau mahal,  Borobudur Marathon 2019 berbayar Rp 575.000 untuk 42 km, Kompas Tambora Challenge 2019 berbayar Rp 2,5 juta 320 km. Belum termasuk penginapan dan akomodasi, apalagi sepatu dan macam-macam perlengkapan lari. Tapi, tetap saja ada puluhan ribu orang dari dalam dan luar negeri mau merogoh koceknya untuk berlari puluhan bahkan ratusan kilometer. Seorang pelari asal Amerika, Mattew Inman, mendefiniskan maraton sebagai bentuk populer siksaan dengan harga kelewat mahal, yang pesertanya harus bangun superpagi dan berdiri kedinginan menunggu waktu start, sampai di satu titik mereka akhirnya berlari kecil dengan tampilan memelas untuk jangka waktu yang sangat panjang, yang sebetulnya lebih baik dihabiskan dengan tidur sampai siang dan/atau mengonsumsi banyak bir dan cupcake (The Oatmeal, Alasan-alasan Konyol dan Keren Kenapa Aku Suka Lari Jarak Jauh, 2015).

Padahal, Mattew Inman merasakan panas, penderitaan, dehidrasi, dan ancaman tawon raksasa dalam sebuah maratonnya di Jepang. Melalui rasa sakit, para pelari menemukan kedamaian. Semakin hebat penderitaan, semakin besar pengampunan yang pelari dapatkan. Pelari jarak jauh adalah monster sinting, berjam-jam berlatih dengan cucuran keringat, rasa sakit dan instropeksi. Bahkan bagi para pelari sosial, sering kali menjauh dari kelompok dan lari dalam keheningan mereka sendiri. Tapi maraton juga sebuah pelepasan kolektif dari berjam-jam kebosanan soliter dalam kerumunan puluhan ribu orang, orang-orang yang memilih menyakiti diri dengan cara yang sama.

Dalam dunia self awareness ada istilah walking meditation, yaitu berjalan perlahan dengan penuh kesadaran, merasakan telapak kaki memijak tekstur lantai, rumput, batu, dan lainnya. Berjalan dan berada pada kini dan di sini. Maraton jarak panjang bagi sebagian orang juga sebuah meditasi batin, merasakan rasa sakit, sepi, kesendirian, pemandangan, dan keindahan. Ruang di mana pelari hanya bersama alam, dirinya, dan pencipta. Melakukan silih dengan rasa sakit dan kesendirian atas hal-hal bodoh yang ia lakukan pada pekerjaan dan keluarga.

Lari adalah perwujudan dari ketabahan terlatih, yaitu mengajari tubuh, pikiran, dan batin untuk merasakan kenyamanan melalui pengalaman menderita selama berlari. Sehingga ketika penderitaan fisik, pikiran, dan batin datang dalam rupa lain, seorang pelari sudah siap. Rasa sakit dan penderitaan bukan lagi musuh, tetapi menjadi tetangga yang dikenal baik sifatnya, kekuatannya, kedatangannya.

Kesakralan menapaki jalan panjang juga dipakai sebagian orang untuk melatih daya tahan batin dan perjumpaan pada Tuhan. Ordo Serikat Jesus, melatih calon imam mudanya dengan berjalan 10 hari dari pantai utara Jawa sampai pantai selatan Jawa, tanpa bekal makanan, uang, dan tempat menginap. Menggunakan kaki sebagai sarana menemukan jawab bahwa mereka masih akan hidup, dari belas kasih siapa saja yang mereka jumpai di jalan untuk memberi makan, minum, dan alas tidur.

Di peristiwa yang lain, seorang ibu bergirang melihat anaknya pertama kali berlari, meski langkah itu pasti semakin menjauhinya dengan cara baik atau buruk. Anak-anak bergembira karena bisa playon, membuat dengkulnya lecet dan mendapat perawatan penuh kasih dari ibu. Banyak kenangan ketika berlari mengejar jadwal pesawat, kereta yang hampir lewat, bus yang terlalu cepat, lari menjadi malaikat penolong saat seseorang dibatasi waktu. Tapi, lari lama-lama membosankan, lebih baik santai menimbun makan. Melarikan diri dari lari ternyata membuat batin juga jadi gemar berlari, lari dari masalah, lari dari susah, lari dari penderitaan. Lari yang harusnya untuk mengejar, lalu dipakai untuk menghindar. Seperti tulis A Aziz Manna: debu dan keringat lengket/ pikiran sekosong ceret/ garis hablur terseret/ angin bersidorong/ yang lalu lintaslah/ yang lintas lalulah.

Cangkringan, 10 Juni 2019

Yohanes Bara – yohanesbara@gmail.com

Tertarik pada pengembangan orang muda, isu terorisme, dan jurnalistik.
Bekerja di Majalah BASIS, UTUSAN, dan ROHANI.
Kontributor Pusat Media Damai – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.
Founder TOBEMORE Learning Center.
Mahasiswa Program Pascasarjana Magister Manajemen (SDM) – FE UAJY
.