Terbit di Harian Solopos edisi Senin, 4 November 2019

Barawidya.id – Ada yang unik dari video berjudul “Pasar Glodok Makin Sepi? Bener Gak Sih?” Di kanal Youtube Opini id. Video yang tayang pada 19 September 2017 itu, menampilkan dua inline skater yang menjajal kemampuannya bukan di skate park tapi malah di lorong-lorong Pasar Glodok. Video ini ingin menunjukkan bahwa surganya barang elektronik sejak 1970-an itu semakin sepi, saking sepinya, mereka leluasa bermanufer di lorong-lorong pasar.

Menurut survei Bank Central Asia pada tahun yang sama, Glodok mengalami penurunan -34%, demikian juga dengan di Harco Mangga Dua, ITC Roxy Mas, ITC Cempaka Mas, Mangga Dua Mal, dan Metro Pasar Baru. Apakah ini artinya daya beli masyarakat turun?

Prof. Rhenald Kasali, guru besar bidang Ilmu manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia membatah melalui bukunya berjudul The Great Shifting (2018). Pertama, tak semua pusat perbelanjaan mengalami penurunan penjualan, sebagain besar diantaranya masih mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Kedua, semakin bertumbuhnya usaha-usaha kafe ala anak muda yang kian lama kian ramai dan inovatif. Ketiga, penumpang transportasi udara mengalami peningkatan 15%-25%. Sehingga, yang terjadi adalah apa yang disebut Rhenald Kasali sebagai shifting, yaitu perubahan selera masyarakat.

Pendapat ini nyambung dengan jumlah total transaksi Hari Belanja Online Nasional 2017 yang sebanyak Rp 4,7 triliun dan meningkat drastis pada 2018 dengan nilai transaksi Rp 6,8 triliun. Shifting ekonomi dari konvensional ke online ini terjadi utamanya karena perkembangan teknologi yang sangat pesat, sehingga tak hanya mengubah cara kita bertransaksi menjadi lebih mudah tetapi mengubah karakter manusia sebagai pengguna barang dan jasa.

Perubahan cara kita berlibur, makan, berpindah dari dari satu titik ke titik lain, belajar, berobat, berbisnis, berutang, bahkan mencari pasangan, mau tidak mau mengubah karakter dan pola pikir kita dalam keseharian. Hampir segala kebutuhan dapat dilakukan hanya dari dalam rumah, bahkan tanpa beranjak dari tempat tidur sekalipun. Mager atau males gerak tak berarti tak bergerak.

Ekonomi mager adalah ekonomi yang tetap dapat dilakukan tanpa perlu antre di bank untuk mengambil uang, antre di loket untuk membeli tiket, atau keluar rumah untuk membeli apapun. Teriakan orang tua masa dulu pada anaknya, “Cari kerja! Jangan di rumah melulu. Mau makan apa kamu kalau malas-malasan di kasur terus?” kira-kira bisa dijawab anak zaman ini dengan “Bu, jangan berisik, aku sedang memberikan kursus lewat video call,” atau “Bu, aku sedang membuat animasi untuk klien di Singapura,” atau “Bu, aku ini jadi dropshipper, menjualkan barang orang”. Gagal memahami shifting ekonomi semacam inilah yang lebih tepat disebut mager, mager pikiran.

Baca: Membaca Buzzer

Kompas edisi 27 Oktober 2019 menunjukan terjadinya pertumbuhan ekonomi mager di sekitar kita salah satunya yang dilakukan oleh Gilang M Nugroho yang membuka bisnis kuliner Kepiting Nyinyir tanpa menyediakan layanan makan di tempat dan semua transaksi hanya dilakukan melalui Go-Food dan Grab-Food. Mulanya, dengan modal Rp 3 juta, Gilang menyewa lapak 6 meter persegi pada 2016 dan kini memiliki 4 warung dengan rata-rata melayani 75 pesanan per hari setiap warung. Dengan harga mulai Rp 50.000 – Rp 100.000 per orang, maka minimal Gilang mengantongi Rp 15 juta per hari. Hal ini membongkar persepsi usaha kuliner ideal yang harus memilih lokasi strategis dan menyediakan fasilitas lengkap.

Shifting dari pasar konvensional ke pasar online atau e-commerce ini juga tercermin dari  semakin meningkatnya kontribusi penjualan ritel online terhadap total penjualan ritel di Indonesia yang mencapai angka 5,8% pada 2019 atau setara Rp 543,86 triliun (kurs Rp 14.200) dan diproyeksikan menembus angka 12,8% dari total transaksi ritel Indonesia pada 2023.

Transaksi e-commerce ini dikuasai oleh Tokopedia, Bukalapak, Shopee (58%) dan sisanya oleh transaksi via sosial media dan market place lainnya. Tokopedia sebagai penguasa pasar e-commerce sendiri tahun ini menarget penjualan kotor atau Gross Merchandise Value (GMV) senilai Rp 222 triliun. Nilai ini menurut Agus Martowardojo, Komisaris Utama Tokopedia, menyumbang 1,5% PDB Indonesia. Bahkan, perusahaan teknologi yang didirikan William Tanuwijaya ini menarget pada 10 tahun mendatang dapat menyumbang 5%-10% PDB (Kontan, 15 Oktober 2019).

Pertumbuhan ekonomi mager juga tak melulu pada produk barang, tetapi juga pada produk jasa seperti layanan kesehatan online. Survei yang dilakukan Litbang Kompas pada bulan lalu, menunjukan bahwa tiga dari lima responden di Jabodetabek telah mengetahui adanya layanan kesehatan online ini. Nama-nama yang telah merambah bisnis kesehatan online ini diantaranya: Go-Dok, ApaSakitKu, Alodokter, KlikDokter.com, Dokter Diabetes, Practo, dan Halodoc.

Dari pelaku bisnis kesehatan online itu ada yang memberikan layanan berbasis website hingga aplikasi mobile. Layanan yang diberikan mulai dari informasi penyakit A sampai Z, live chat, voice call, hingga video call dengan dokter umum atau spesialis, surat rujukan dan terapi, hingga pemesanan obar secara online.

Baca: J. Kristiadi: Ora Muda! Aja Mung Lutisan

Ekonomi mager juga bertumbuh terhadap minat masyarakat untuk melakukan investasi, khususnya pembelian emas secara online. Sejak PT Pegadaian merilis Pegadaian Digital, nasabah tabungan emas Pegadaian meningkat hingga 2,1 juta orang dengan jumlah deposit sejara 3,1 ton. Dengan investasi online ini masyarakat yang dulunya kesulitan membeli emas karena keterbatasan dana, sekarang bisa investasi emas dengan uang “receh” mulai dari 0,1 gram dan bisa dibayar melalui mobile atau internet banking bagi yang mager.

Istilah males gerak atau mager tak lagi berarti tidak bergerak. Sebab pada masa kini, tanpa bergerak dari satu tempat ke tempat lain pun, seseorang dapat melakukan gerakan virtual melalui teknologi internet of things, artificial intelligence, dan big data. Tanpa bergerak, berpindah satu tempat ke tempat lain, transaksi barang dan jasa tetap dapat dilakukan.

Ekonomi “mager”mau tidak mau perlu ditanggapi dengan bijak agar dapat memanfaatkannya dengan baik dan tak terhanyut, namun juga tidak menjadi persoalan bagi sebagain orang yang menolak ekonomi “mager”ini, ia masih bisa memilih ekonomi “bergerak” yang semakin lama semakin tidak efisien secara waku, tenaga, dan menimbulkan harga yang lebih mahal.

Harian Solopos edisi Senin, 4 November 2019

Yohanes Bara – yohanesbara@gmail.com

Tertarik pada pengembangan orang muda, isu terorisme, dan jurnalistik.
Bekerja di Majalah BASIS, UTUSAN, dan ROHANI.
Kontributor Pusat Media Damai – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.
Founder TOBEMORE Learning Center.
Mahasiswa Program Pascasarjana Magister Manajemen (SDM) – FE UAJY
.