Terbit di Harian Solopos edisi 14 April 2020 dengan judul Saat Tepat Berbela Rasa

Barawidya.id – Perayaan Rabu Abu pada 26 Februari 2020 menjadi awal masa Prapaskah dengan berpantang dan berpuasa selama 40 hari bagi umat Katolik di seluruh dunia. Namun pemberitaan wabah  Coronavirus Disease 2019 atau Covid 19 yang bermula di Wuhan, China membuat sebagian orang was-was, apalagi pemerintah China mulai memberlakukan lockdown (penguncian) kota WUhan dengan jumlah penduduk 11 juta jiwa itu mulai 23 Januari 2020.

Mulanya banyak pemimpin negara menyepelekan virus yang belum ditemukan obatnya ini, namun nyatanya per 12 April 2020, Covid 19 telah menyebar ke 185 negara dengan 1.776.157 kasus (Johns Hopkins Coronavirus Resource Center). Banyak negara diprediksi akan mengalami resesi ekonomi akibat Covid 19, di Indonesia sendiri banyak perusahaan besar mengalami penurunan harga saham hingga 50%, nilai tukar rupiah pada akhir Desember 2019 berkisar di level Rp 13.952 per dolar AS juga turun drastis menjadi Rp 15.880 per dolar AS (Bloomberg.com, 12 April 2020).

Tak hanya sektor ekonomi, virus yang telah menewaskan 108.804 jiwa di seluruh dunia ini juga “mengusik” makna dan cara manusia beragama. Vatikan menutup Basilika dan Lapangan Santo Petrus sejak 10 Maret 2020, Pemerintah Arab Saudi juga mengumumkan pengosongan sementara area Ka’bah untuk sterilisasi atas kekhawatiran penyebaran Covid 19 pada 5 Maret 2020. Kedua tempat yang biasa dikunjungi jutaan orang dari seluruh dunia ini disepikan oleh wabah.

Pemerintah melalui keterangan pers yang disampaikan Presiden Jokowi pada 15 Maret 2020 juga akhirnya menghimbau masyarakat untuk kerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah di rumah dan melakukan isolasi diri selama 14 hari. Himbauan ini disusul dengan edaran para pemuka agama untuk menghentikan kegiatan beribadah di rumah ibadat, salah satunya Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung Kesukupan Agung Semarang yang meniadakan perayaan Ekaristi sejak 20 Maret sampai 30 April 2020 pada sekitar 89 paroki di bawah Keuskupan Agung Semarang. Padahal, Kamis (9/4) hingga Sabtu (11/4) adalah rangkaian Trihari Suci Paskah yang merupakan perayaan penting bagi penganut agama Katolik.

Perayaan penting yang biasa dilangsungkan di gereja, pada tahun ini terpaksa hanya bisa diikuti secara daring. Mgr. Robertus Rubiyatmoko pada misa Kamis Putih di Gereja Katedral Semarang yang disiarkan melalui kanal Youtube KOMSOS Keuskupan Agung Semarang dan disaksikan lebih dari 25 ribu views mengaku heran mengapa mengapa umat tetap setia dan tekun mengikuti perayaan Eakristi meski hanya melalui live streaming. Ia kemudian membacakan beberapa pesan yang ia terima melalui WhatsApp bahwa banyak umat yang mengalami kerinduan malangsungkan misa di gereja dan menerima komuni.

Padahal menurut Mgr. Robertus Rubiyatmoko, sebelum wabah ini umat biasa-biasa saja dan yang penting hari minggu datang ke gereja. Tidak ada sesuatu yang mengesan, bahkan ogah-ogahan dan harus dibangunkan dulu. Sekarang menjadi sangat lain, umat Katolik merasakan kehilangan ketika tidak bisa menerima Tubuh Kristus secara langsung. Ritual agama Katolik yang telah berlangsung sejak zaman Yesus ini pun kembali menemukan maknanya yang lebih dalam. Keprihatinan juga terasa semakin dalam ketika melihat foto gereja yang bisanya penuh sesak oleh umat tetapi saat ini tidak ada satupun bangku yang terisi.

Sebagai awal perayaan Trihari Suci, Kamis Putih juga merupakan lambang pelayanan terhadap sesama melalui peristiwa Yesus membasuh kaki para muridnya. Mgr. Robertus Rubiyatmoko dalam suasana wabah Covid 19 ini mengajak umat Katolik untuk meneladan sikap Yesus itu dengan mencintai dan melayani satu sama lain dimulai dari keluarga sebagai lingkaran terkecil. Ia mengajak secara khusus terlibat dalam penanganan Covid 19 dengan merawat mereka yang tua, sakit, berkebutuhan khusus, dan yang mengalami kesulitan lain.

Ia juga mengajak umat Katolik untuk ngerengkuh para tetangga yang berprofesi sebagai tenaga medis dan orang-orang yang telah dinyatakan positif dengan cara menerima dan memperhatikan kebutuhan mereka agar dapat menjalani masa karantina dengan baik. Ia mengajak untuk membuka lumbung-lumbung kemurahan hati, membuka gudang-gudang kepedulian, membuka tabungan cinta kasih untuk sesama sebagai wujud bela rasa Paskah di tengah Covid 19 ini.

Rm Macarius Maharsono Probho, SJ, Pastor Kepala Paroki Santo Antonius, Kotabaru, Yogyakarta dalam ibadat Jumat Agung juga merefleksikan sengsara Yesus di tengah Covid 19. Melalui peristiwa Yesus yang memerintah Petrus menyarungkan pedangnya saat serdadu hendak menawan Yesus, Rm Maharsono, SJ merenungkan bahwa kekerasan sering kali dianggap sebagai cara paling efektif dan cepat untuk menyelesaikan masalah. Seolah-olah siapa yang memiliki kekuatan bisa memaksa, merendahkan, dan menundukan orang lain adalah cara yang paling efektif merampungkan masalah. Namun cara demikian menurut permenungan yang disampaikan oleh Rm Maharsono, SJ tidaklah diterima oleh Yesus.

Menyarungkan pedang dalam zaman ini memiliki makna agar kita tidak mengutamakan keselamatan diri dan keluarga sendiri dengan mengorbankan yang lain. “Pedang” itu adalah kekuatan uang, ekonomi, dan kekuasaan, yang nyatanya tidak bisa diadalkan di tengah wabah Covid 19. Kita justru melihat kerendahan hati, kelemahlembutan, cinta, pelayanan, dan pengorbanan yang menjadi kekuatan dan memberikan harapan pada saudara-saudara kita yang ODP (orang dalam pengawasan) dan yang positif. Pengalaman bagaimana mereka sembuh adalah pengalaman dicintai dan menerima kebaikan orang lain yang sepenuh hati padanya.

Peristiwa lain yang disampaikan oleh Rm Maharsono, SJ adalah saat serdadu menikam lambung Yesus dengan tombak yang mengucurkan air dan darah. Air dan darah keluar bersamaan merupakan peristiwa seorang ibu yang melahirkan, sehingga kematian Yesus menurut Rm Maharsono adalah kelahiran kemanusiaan kita. Sehingga kematian dan kebangkitan Yesus di tengah wabah Covid 19 merupakan ajakan untuk kita semua berani merawat dan mendukung kedukaan sesama kita. Maka cara untuk merayakan Paskah kali ini adalah dengan sikap solidaritas terhadap para petugas medis, dokter, pasien, dan semua orang yang terdampak Covid 19. Selamat paskah.

Yohanes Bara – yohanesbara@gmail.com

Tertarik pada pengembangan orang muda, isu terorisme, dan jurnalistik.
Kontributor Pusat Media Damai – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.
Founder TOBEMORE Learning Center.
Mahasiswa Magister Manajemen (SDM) – FE UAJY
.