Barawidya.id – Kemarin, Kelik M. Nugroho, Komisioner Ombudsman D. I. Yogyakarta dan mantan redaktur Koran Tempo, berkunjung ke Bilik Literasi Solo. Ia menawarkan proyek pembuatan Almanak Musik Indonesia yang kedua, tebalnya diperkirakan 300 halaman yang memuat agenda-agenda besar permusikan di Indonesia selama 10 tahun terakhir. Ini perjumpaan pertama mantan redaktur Koran Tempo dengan penulis esai, Bandung Mawardi, yang katanya sudah menulis lebih seratus naskah di Koran Tempo. Hari ini, giliran Ichwan Prasetyo, redaktur harian Solo Pos yang mampir ke Bilik Literasi. Dia yang memilih tulisanku, Mula dan Akhir adalah Foto! untuk dimuat di Solo Pos edisi 16 Mei 2019.

Perbincangan tak sengaja dengan para redaktur media massa lokal dan nasional ini memberikan kesan bahwa kerja media, khususnya jajaran redaksi, merupakan kerja pikir yang keras. Redaktur dituntut punya kompetensi mendalam terhadap banyak topik. Tentu saja, karena redaktur tak bisa pilih-pilih ratusan atau ribuan naskah yang masuk ke email redaksi. Meski di media nasional akhirnya ada redaktur khusus politik, redaktur pendidikan dan kebudayaan, redaktur sastra, dan redaktur lainnya. Awalnya, seorang redaktur dituntut memahami semuanya. Dengan kunjungan mereka ke Bilik Literasi, menandakan tugas redaktur tak hanya di balik meja, tapi merawat jejaring kemediaan. Melalui dua perjumpaan ini, aksi, refleksi, dan narasi merupakan tri tunggal di balik proses apapun.

Aksi

Belakangan hari memang rada dibuat tersenyum geli membaca sebuah grup WhatsApp yang beranggotakan alumni sebuah komunitas pelatihan kepemimpinan. Hari ke hari, satu dan lainnya seperti berlomba menampilkan apa yang dibuatnya di daerah, termasuk berlomba membagikan info-info yang dianggap penting dan benar-benar tak penting. Ada gairah ingin diketahui khalayak atas segala aksi yang sudah, sedang, dan akan dilakukan.

Aksi memang pada tataran paling terlihat. Maka ada celotehan, “Dasar omdo!” alias omong doang. Atau, sebuah iklan berujar talk less do more, sedikit bicara dan bekerja lebih. Atau, pepatah “tong kosong nyaring bunyinya”. Semuanya menekankan untuk kerja, kerja, dan kerja.

Jadi, ketika seseorang sudah melakukan sesuatu, ia terkesan boleh berkata agak lantang, boleh agak membusungkan dada, boleh berjalan agak tegap dan percaya diri. Sebaliknya, jika belum punya karya apa-apa, mohon untuk tidak banyak cakap dan wacana.

Kebanyakan ulasan menempatkan aksi di akhir, karena selalu diawali dengan analisa dan perencanaan, supaya aksi itu berjalan sesuai rencana dan tepat sasaran tentunya. Betul, memang mesti punya analisa dan rencana dulu, dan saya asumsikan aksi telah dibuat dengan persiapan yang baik. Namun, jika selesainya sebuah aksi (kegiatan, program, aktivitas) dilanjutkan dengan aksi lagi. Kemungkinan aksi-aksi tersebut berujung sia-sia dan hanya menjadi aktivis yang berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain. Oleh sebab itu perlu adanya pemaknaan.

Refleksi

Pada proses ini, sering kali orang anggap refleksi adalah sebuah kegiatan suci dan rohani. Refleksi bukan kegiatan keagamaan atau suci, refleksi seperti alat ayak untuk aksi di atas, agar terpisah mana sari pati, krikil, dan kotoran. Melihat kembali apakah aksi dijalankan dengan tepat.

Refleksi menjadi berat karena seseorang harus bersedia membuka diri, kepada dirinya sendiri. Keterbukaan diri itu kadang malah membuka borok-borok hidup, kesalahan-kesalahan. Ah, siapa yang mau dikoreksi, bahkan oleh dirinya sendiri? Tentu maunya hanya baik dan baik. Kalau ada yang tak beres dimasa lalu, biarkan saja. Aku tak mau.

Suatu ketika, dalam sebuah komunitas, para seniornya dikumpulkan, memikirkan nasib kelangsungan komunitas itu. Ada yang mendengarkan saja, lainnya usul hal-hal besar. Karena sudah menandai kejadian-kejadian masa lalu, seseorang menolak bergabung dengan program yang dibuat muluk-muluk, ia meyakini tinggi panggang dari api, ide terlalu neko-neko dan bukan perkara mudah buat diaksikan. Ia disisihkan dengan cap nato alias no action talk only alias hanya bisa bicara tanpa aksi, seorang seniornya bahkan mencak-mencak dan memblokir nomornya. Ia keheranan, kok bisa seorang senior yang jadi panutan banyak orang demikian terjebak dalam emosi? Ia membayangkan, batin yang semeleh dan tenang tentu tak sembarang marah dan mengumbar kekesalan. Nah, kira-kira ilustrasi ini menunjukan akibat dari banyak aksi tetapi tidak mengoreksi batin. Bukan sesuatu yang beraroma agama, kan? Refleksi hanya menjadi pemisah antara robot dan manusia.

Narasi

Setelah ada aksi dan refleksi, selanjutnya adalah narasi. Aksi adalah kerja badan (tangan), refleksi adalah kerja batin, dan narasi adalah kerja pikir. Narasi itu berbahan dari aksi-aksi yang telah dibuat dan direfleksikan, bentuknya bisa melalui percakapan, diskusi, debat, membaca, dan menulis.

Seseorang bisa menulis sesuatu yang hebat-hebat dengan puluhan referensi, tapi jika tak ada pembatinan atau perasaan di tulisan itu, maka  sekadar tulisan catatan rumus atau aturan tanpa memunculkan getaran batin seperti kita membaca Tagore, Sang Alkemis, Kahlil Gibran, atau bacaan sarat makna lainnya. Demikian tujuan narasi dibuat, aksi yang sudah dibadankan dan dibatinkan itu ditulis untuk menggetarkan batin seseorang, kemudian tergerak.

Narasi juga butuh keterbukaan. Suatu ketika, saat bimbingan dengan Berhard Kieser, SJ di Kolese Ignatius Yogyakata, ia dengan tekun dan sangat sabar mendengarkan anak bau kencur ini bicara, sharing tentang apa yang sedang dibuat dan dirasa. Aneh, ia itu salah satu orang top di Indonesia dan Serikat Jesus, tapi bisa mendengarkan dan menurunkan jauh pemikirannya untuk memberi tanggapan. Demikian juga saat berbincang dengan J. Kristiadi, dengan sabarnya menjawab dan menanggapi pertanyaan yang “receh”. Nah, mereka yang mumpuni secara aksi, refleksi, dan narasi saja demikian bersahaja dan rendah hati melakukan narasi dengan orang yang jauh berada di bawahnya dalam tataran aksi, refleksi, dan narasi. Tentu kita tak patut tinggi hati.  

Narasi adalah proses belajar dan menambah kualitas aksi, refleksi, dan narasi itu sendiri. Dan ketiganya perlu dilakukan terus menerus. Dengan kerendahan hati, keterbukaan pada hal baru, dan tekad yang kuat melakukan aksi.

Yohanes Bara
Bilik Literasi, 2 Juni 2019