Meditasi di pantai Ngitun Gunungkidul

Hasrat: apa yang sungguh kau inginkan?

Pada usia 28 tahun, saya mengalami “penurunan” daya juang dan kepercayaan diri. Batin rasanya remuk saat seorang yang saya kasihi meninggal di pelukan saya, semakin remuk lagi saat Ibu, perempuan yang paling berharga dalam hidup saya, meninggal kecelakaan saat saya baru lulus kuliah.

Kadang kala saya terjebak pada rasa iri, teman-teman seusia sudah beranak pinak dengan penak dan sudah berlibur ke berbagai negara, sebagian juga sudah punya jabatan yang baik dengan gaji besar di perusahaan terkemuka di kota. Mereka, teman satu komunitas, satu pelatihan, satu organisasi, sudah punya rumah dan kendaraan yang baik.

Sedangkan saya, tanpa mengurangi rasa syukur, dibandingkan mereka, “hanya” bekerja sebagai wartawan di sebuah majalah nasional dengan pendapatan tak sebanyak para pemburu rupiah di ibu kota. Jebakan iri hati ini membuat saya sempat berusaha mencari jalan agar setara dengan mereka yang berharta dan nampak bahagia itu.

Saya tak mengatakan berharta dan mengejar materi itu buruk, tanpa materi yang cukup, daya upaya kita dalam membantu orang juga akan terbatas. Tetapi apakah berharta otomatis berharga? Belum tentu. Apakah berharta pasti bahagia? Bisa ya bisa tidak. Jadi ketika diberi pilihan: berharta atau bahagia? Saya pilih keduanya, berharta dan bahagia.

Sebab, ketika melihat orang lain liburan ke luar negeri, saya sangat ingin juga. Saat ada teman yang membangun rumah besar dengan kendaraan terbaru, saya juga sangat-sangat ingin. Tapi, keinginan yang besar itu tak dibarengi dengan upaya yang besar. Saya ingin, tapi enggak berhasrat. Ingin tapi tidak sungguh-sungguh ingin yang mendorong raga untuk mencapainya.

Hasrat adalah dorongan batin yang “meledak-ledak” untuk menggapai sesuatu. Hasrat adalah alasan setiap orang tetap bangun bagi dan melakukan aktivitasnya. Tanpa hasrat, seseorang akan malas bangun dan tidak melakukan apa-apa. Hasrat adalah alasan mengapa aku perlu mencapai suatu hal.

Hasrat bukan sekadar keinginan punya mobil, rumah, atau pencapaian-pencapaian sejenis. Hasrat jiwa yang dalam membantu mengetahui ingin jadi apa dan ke mana kita ingin membawa hidup ini.

Sehingga saya menemukan jawab mengapa tidak memilih jalan hidup sama dengan lainnya yang bekerja di perusahaan multinasional adalah karena itu bukan hasrat saya, bukan sesuatu yang sungguh-sungguh saya inginkan, sehingga upaya saya tidak mati-matian mengarahkan daya raga ke sana.

Tidak menjalani hidup “ideal” dan memilih hidup apa adanya, waton mlaku, bagi saya juga sebuah jebakan. Tidak punya tujuan “mewah” bukan berarti menjalaninya dengan serampangan dan tidak totalitas. Maka saya terus mencari apa hasrat hidup saya.

Pada 2017, dalam pengujung sebuah program Latihan Rohani untuk anak-anak muda yang dibuat seorang Yesuit di Yogyakarya, saya menjalani retret 4 hari tentang mission of life, menggali apa tujuan hidup para peserta retret, tujuan hidup saya. Melalui bahan-bahan doa yang diberikan, saya menggali siapa diri saya, mengapa saya diciptakan, dan dari jawaban siapa diri saya dan mengapa saya diciptakan itu, saya menentukan cara apa yang bisa dipakai mencapai tujuan saya diciptakan.

Dari pengalaman menjadi orang kaya di Timor Leste, pengungsi yang kehilangan semua hartanya karena referendum Timor Leste 1998 sehingga mesti tidur di tenda beralas kardus selama berbulan-bulan, tinggal di atas got yang bau busuk, menjadi transmigran di pedalaman yang di seberang rumah masih banyak babi dan monyet berkeliaran, saya punya panggilan khusus terhadap kemanusiaan.

Tapi bicara kemanusiaan sangat luas dan kompleks, peran apa yang bisa saya ambil? Saya sempat mengajar anak-anak jalanan dan warga tempat pengolahan akhir di Lampung, sempat mengurusi program-program CSR untuk ekonomi desa, sempat menjadi penyiar radio, dan saat ini menjadi wartawan dengan tugas khusus menulis feature yang sangat dekat dengan isu-isu kemanusiaan dan lingkungan.Tapi dari semua itu, saya merasa belum menemukan cara yang tepat untuk memenuhi hasrat saya terlibat dalam kemanusiaan.

Akhirnya, dalam retret itu saya menemukan jawabnya, berkali-kali kontemplasi selalu muncul gambaran yang sama – Rhenald Kasali. Ya, saya ingin menjadi seperti Prof. Rhenald Kasali, sebagai dosen ia dekat dengan anak muda, ia penulis, dan punya Rumah Perubahan sebagai wahana melatih banyak hal.

Terlalu bias bagi saya untuk mencapai tujuan penciptaan dengan menjadi pengajar di tempat pengolahan akhir atau jadi aktivis pendidikan anak-anak jalanan. Ya, saya tentu bahagia, tapi dampaknya tak besar. Tapi dengan dekat dengan anak-anak muda yang sudah tersaring menjadi mahasiswa, saya bisa melatih mereka bermental pemimpin dan berjiwa kemanusiaan yang baik. Dari ratusan atau ribuan orang yang dilatih, hanya jadi 1 orang saja yang bisa melakukan perubahan besar, bagi saya sudah merupakan kesuksesan dari tujuan penciptaan: membantu orang meningkatkan kapasitas dan kemampuan membantu masalah sosial.

Bahkan, tanpa saya sadar, hasrat ini sudah ada sejak lama saat saya menempuh program Magister Psikologi Pendidikan di Unika Soegijapranata Semarang pada 2013. Saat itu saya ingin jadi profesional di bidang training, meskipun akhirnya gagal menyelesaikan program karena salah perhitungan, hanya modal nekat tanpa tekad.

Hasrat menjadi “Rhenald Kasali” itu semakin berkobar-kobar, tapi belum menemukan jalan untuk mencapainya. Sampai pada awal 2019, tunangan saya mengirim saya pada sebuah capacity building training yang salah satu pembicaranya adalah Prof Rhenald. Pertemuan ini bagi saya yang selama ini mendekatkan diri padanya dengan membaca buku-bukunya adalah sebuah rahmat dan kesempatan yang luar biasa.

Pertemuan ini saya anggap sebagai sebuah tanda dari Tuhan bahwa Ia meng-acc tujuan penciptaan menjadi “Rhenald Kasali”, sehingga sepulang dari training itu saya lebih fokus pada teknis untuk megambil program pascasarjana yang linear dengan S1 saya. Dua bulan kemudian, saya mengikuti pelatihan Green Entrepreneurship yang dibuat oleh Magister Manajemen Universitas Sanata Dharma. Karena pengalaman saya sebagai video editor, seorang profesor Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang menjadi pemateri memberikan project pada saya untuk membuat profil usaha para peserta pelatihan. Sehingga dalam pelatihan ini saya punya jaringan baru dengan direktur MM USD dan guru besar UAJY itu.

Dari pertemuan saya dengan Prof Rhenald sampai pada pelatihan ini saya merasa candaan Tuhan “keterlaluan”, semua nyambung. Maka saya beranikan mengajukan lamaran sebagai mahasiswa program MM USD, padahal karena waktu kuliahnya pada siang hari maka otomatis saya harus mengundurkan diri pekerjaan. Namun, karena tidak ada program beasiswa dari MM USD maka saya menghubungi seorang senior yang pernah menjabat sebagai Rektor UAJY untuk meminta sponsor beasiswa.

Katanya, untuk mendapat sponsor darinya, kuliahnya harus di UAJY. Kemudian ia memanggilku, dalam pertemuan yang tak lebih dari 30 menit itu, ia bertanya motivasi dan rencana setelah lulus. Tanpa basa-basi ia mengatakan bahwa saya juga harus menanggung sebagian dari biaya kuliah itu supaya saya juga punya keterlibatan, saya mengajukan 25%. Pada saat yang sama, ada sebuah project menerbitkan buku yang keuntungannya sama persis dengan nominal 25% itu.

Pada titik ini, saya “misuh-misuh” pada Tuhan, umpatan yang terucap karena saking baiknya Tuhan pada saya. Seperti saat ingin minta sesuatu yang berharga pada orang tua, motor 250cc misalnya, dengan disposisi batin yang takut dan berusaha meminta pada orang tua namun dengan entengnya diberikan. “Asem ki, tenanan iki, Pak?” begitulah “umpatan” batin saya pada Tuhan karena Ia memberikan sesuatu yang sangat berharga bagi saya dengan sangat-sangat mudah.

Dari proses panjang ini, dari gundah gulana menentukan tujuan hidup, menemukan tujuan penciptaan, kegagalan-kegagalan, sampai pada titik ini, saya merasa semua sudah diatur dengan smooth. Kalau saja pada 2013 saya berhasil menyelesaikan S2 Psikologi, ceritanya akan beda. Kalau saja 2015 saya diterima Harian Kompas, ceritanya akan beda. Kalau saja keluarga saya masih mapan dan bisa memenuhi semua ingin, ceritanya pasti beda. Cerita itu bisa lebih baik dan bisa lebih buruk.

Sehingga sebenarnya pengalaman gagal, ditolak, tertunda, adalah pengalaman-pengalaman yang netral, bukan pengalaman buruk atau baik. Pada satu masa saya merasa patah hati tidak diterima Harian Kompas, tapi pada masa lain saya merasa “bersyukur” karena mendapat kesempatan lebih besar. Saat gagal menyelesaikan S2 Psikologi saya merasa kehilangan kesempatan, tapi ternyata masih dapat kesempatan.

Karena itu, saya merasa pengalaman apa saja cukup disadari saja, tak perlu di-judge sebagai pengalaman baik atau buruk. Sehingga otomatis tak perlu bereaksi secara berlebihan menanggapi pengalaman itu. Namun ini bukan berarti mati rasa, saya masih bisa merasakan ekspresi bahagia saat melamar Widya, tapi rasanya tak perlu berekspresi bahagia secara berlebihan, karena saya tahu perasaan itu juga akan lewat, demikian juga kebahagiaan saat diberi kesempatan menempuh program pascasarjana di UAJY.

Satu hal yang pasti selain pasang surut perasaan adalah konsekuensi dari setiap langkah dan pilihan. Kalau sampai pada saat ini saya merasa panggilan saya adalah menjadi dosen, maka saya perlu memantaskan dan mempersiapkan diri untuk menjadi dosen. Belajar bahasa, banyak membaca dan mulai membuat jurnal, banyak membaca tentang bidang saya adalah syarat standar yang harus dipenuhi. Tapi karena saya mendapatkan kesempatan studi lanjut ini dengan amat mudah sebagai rammat Tuhan, maka pemberian saya mestinya tak sekadarnya. Ada silih yang harus diberikan pada semesta dan sesame atas kebaikan Tuhan.

Untuk itu, sebenarnya, lebih dalam dari menemukan tujuan penciptaan (profesi, karya, bidang), saya mesti menemukan mengapa Tuhan ingin saya menjalani tujuan penciptaan itu. Apa yang Ia inginkan saat saya menjadi dosen, misalnya.

Sayangnya, jawaban itu “tak ada”, Tuhan tak pernah mengatur manusia untuk menjadi ini atau itu, berbuat baik atau buruk. “Lu mau jadi apa, berbuat baik atau buruk mah bodo amat, terserah lu,” begitu kira-kira (mungkin) ucap Tuhan. Ia tak pernah intervensi kehendak-Nya pada manusia. “Lu mau baik, mau buruk, mau jahat, terserah. Tapi asal lu tau, Gue tetap cinta ama lu,” kata Tuhan. Sebab Ia menurunkan hujan bagi si jahat dan si baik, memberi nafas bagi siapa saja, tidak membeda-bedakan satu manusia dengan lainnya.

Sehingga jawaban itu mesti dicari dengan cara agak rumit – dekat dengan-Nya. Seperti hubungan anak – orang tua, kadang kala tak perlu bertanya untuk tahu ingin si anak atau orang tua, kita cukup sering-sering ngobrol, berinteraksi, curhat-curhatan, kita jadi tahu kira-kira inginnya Bapak, Ibu, anak itu apa. Masalahnya, karena kesibukan, interaksi itu rasanya sulit sekali dijalin, masing-masing sudah punya kegiatan pentingnya sendiri, dan sesekali berinteraksi dalam keluarga.

Celakanya, saat-saat penting seperti ulang tahun, kita punya asumsi bahwa Bapakku, Ibuku, anakku suka dengan apa yang kuberikan, padahal karena jarangnya komunikasi, asumsi itu salah, kita tidak terlalu mengenal pada Bapak, Ibu, atau anak – kita tidak terlalu mengenal Tuhan.

Dari refleksi singkat yang cukup panjang ini, banyak hal yang saya coba tuangkan, namun tak ada kesimpulan, biar pembaca yang menimba sendiri hal-hal yang related dengan pengalaman pribadinya. Jika menemukan, Alhamdulillah, Puji Tuhan. Jika tidak, ya tetap Alhamdulillah dan Puji Tuhan, karena kegembiraan mencari tak melulu soal menemukan sesuatu, dalam keputusasaan tak menemukan dan tak merasakan apa-apa kita juga punya kegembiraan karena tetap setia mencari.

Yogyakarta, 2 Januari 2020

Yohanes Bara – yohanesbara@gmail.com

Tertarik pada pengembangan orang muda, isu terorisme, dan jurnalistik.
Bekerja di Majalah BASIS, UTUSAN, dan ROHANI.
Kontributor Pusat Media Damai – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.
Founder TOBEMORE Learning Center.
Mahasiswa Program Pascasarjana Magister Manajemen (SDM) – FE UAJY
.