Barawidya.id – Semua teman kantor komplet hari ini, di briefing harian kali ini berkesempatan untuk share apa saja yang didapat dari sebulan study menulis di Bilik Literasi Solo. Tentu banyak hal yang saya sampaikan pada teman-teman, tetapi yang ingin saya bagikan di sini adalah sebuah pertanyaan tentang bagaimana menjalani tugas dengan gembira.

Pada 6 Mei 2016, saya dan beberapa orang kantor berdiskusi mengenai persiapan keberangkatan ke Bilik Literasi. Mengenai anggaran, jam belajar, dan lain hal. Salah satu yang mengusik adalah ketentuan tidak ada hari libur, jadi tugas belajar itu termasuk sabtu dan minggu. Tak hanya itu, tidak ada pula hari libur saat Lebaran. Menyebalkan. Saya sempat ngotot untuk bisa pulang atau dolan saat weekend, termasuk mengharuskan pulang saat libur Lebaran.

Kenyataannya tak demikian, bayangan durasi belajar yang hanya sepanjang jam kerja Pukul 08.00 – Pukul 16.00 ternyata salah. Aktivitas dimulai Pukul 05.00 sampai Pukul 22.00, aktivitas hanya membaca dan menulis. Memang tak ada paksaan dari Bandung Mawardi sebagai mentor, tetapi kultur Bilik Literasi memang begitu dan tentunya sebagai murid mesti mengikutinya. Termasuk tidak ada hari libur, bahkan di hari raya Lebaran.

Setelah saya cerita dengan antusias dan detil, muncul pertanyaan, bagaimana mengatur perasaan dari kejengkelan dengan jadwal itu menjadi kenyamanan dan menikmatinya, bahkan dengan hasil yang cukup baik?

“Lho, saya tetap jengkel dan tidak nyaman. Dengan menjalaninya dengan sepenuh hati bukan berarti kejengkelan itu saya nafikan. Tapi buat apa menjalaninya dengan kejengkelan dan perasaan yang carut marut? Bukankah saya punya kontrol penuh atas apa yang saya rasa dan perbuat? Jadi, saya mencoba mengambil jarak dengan kejengkelan, ketidaknyamanan, dan kemarahan itu. Kemudian menyadarinya, menyadari bahwa saya sedang marah karena tidak mendapat libur. Lalu meletakkan kemarahan untuk tidak lagi saya sentuh dan saya menjalani aktivitas dengan pilihan yang terbaik, yaitu menikmati segala prosesnya. Saya tahu kemarahan saya masih ada di ‘sudut’ sana, saya abaikan atau suatu saat saya ambil lagi untuk keperluan tertentu,” begitu jawab saya.

Sejak mengikuti sesi meditasi 7 – 10 Maret 2019 di Eco Intercultural Camp, Megamendung, bersama Sudrijanta, SJ, saya semakin sadar, ada hal-hal yang sepenuhnya di bawah kendali saya dan ada yang sama sekali tidak dapat saya kendalikan. Yang tidak adalah seperti perasaan dan penilaian orang terhadap saya, apresiasi, usia, dan kesehatan. Yang dapat saya kendalikan adalah perasaan dan pikiran saya.

Kalau saya diperlakukan tidak adil karena tidak mendapat hari libur, itu diluar kendali saya karena sebuah keputusan lembaga. Mau tidak mau saya harus menjalaninya. Tapi, perasaan apa yang ingin saya berikan sebagai tanggapan keputusan itu, sepenuhnya ada dalam kendali saya. Dan saya memilih tidak ambil pusing dan tetap berperasaan tenang serta menikmati proses belajar di Bilik Literasi. Karena kalau saya malah arogan dan terpancing untuk marah, justru akan mengacaukan banyak hal. Kantor yang mengirim saya untuk tugas belajar mungkin tidak nyaman dan menyesal, Bandung Mawardi sebagai mentor juga tak nyaman mengajar orang yang ngambek. Sekali lagi, saya tak membuang kemarahan, saya menyadarinya dan meletakkannya. Karena semua perasaan adalah netral, termasuk perasaan marah. Hal yang tak membuat netral adalah tanggapan atas perasaan itu, misalnya arogan dan ngambek.

Dunia ini sudah riuh akan banyak hal yang tak dapat kita kendalikan. Malah, kita kadang justru dengan sengaja melatakkan diri pada hal-hal yang jauh dari kendali. Misalnya, menaruh kegembiraan pada jumlah like dan komentar di Instagram, haus apresiasi atas prestasi atau barang-barang yang sanggup dibeli, pujian atas pekerjaan, ucapan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan. Semua itu jauh di seberang sana, jauh dari kendali.

Meletakkan perasaan dan kebahagian diri pada hal-hal semu itu membuat stres. Jalanan macet, marah-marah. Antrian panjang, enggak sabar. Bos tidak kasih apresiasi, mutung. Ide tidak diterima, ngambek. Doi lemot balas WhatsApp, galau. Ditegur baik-baik, marah. Bukankah segala perasaan itu adalah pilihan? Kalau bisa pilih perasaan yang positif, kenapa pilih yang negatif?

Y. Bara
Pringgokusuman, 18 Juni 2019