Pada Februari lalu saya memutuskan mundur dari meja redaksi Majalah UTUSAN yang telah melatih dan membesarkan nama saya sebagai wartawan dan penulis di bawah kepemimpinan Rm Sindhunata, SJ. Keputusan yang tidak mudah dan dipertimbangkan hampir setahun sebelumnya dengan segala macam dinamika dan pergulatan perasaan. Bagi saya, menjadi wartawan adalah dambaan profesi kerja.

Bekerja di Majalah UTUSAN, ROHANI, dan BASIS sebagai wartawan, marketing,dan social media spesialist, menumbuhkan banyak potensi diri dan kreativitas. Mulai dari kemampuan jurnalistik yang berkembang, videografi, marketing online, dan juga relasi dengan banyak orang dari beragam profesi dan kalangan. Namun, pada satu persimpangan, saya mesti memilih tetap bekerja pada passion saya atau menantang diri di dunia baru untuk lebih berkembang.

Dengan sangat berat hati saya memutuskan mundur.

Kesempatan studi S2 di Magister Manajemen Universitas Atma Jaya Yogyakarya sejak Agustus 2019 menjadi pertimbangan utama untuk muncur dari pekerjaan yang saya cintai itu. Kemudian saya memilih sebagai driver Grab untuk mengganti pemasukan yang hilang akibat keputusan ini dan menjadi penulis lepas di koran-koran lokal dan media online.

Tak berselang lama, Covid-19 semakin menjadi di Indonesia yang kemudian memaksa Presiden Jokowi memutuskan semua masyarakat untuk bekerja dari rumah, sekolah dari rumah, dan beribadah di rumah. Saya termasuk yang terdampak dari jutaan orang Indonesia. Grab tak mungkin lagi diteruskan karena tak ada pergerakan masyarakat, ekonomi terhenti. Perkuliahan yang biasanya dilakukan di kelas, sejak Maret hanya bisa dilakukan melalui Zoom dan Ms Team, pelatihan kepemimpinan di sebuah Kolese yang menjadi bahan penelitian tesis saya tidak bisa dilanjutkan karena sekolah juga dilangsungkan secara daring dari rumah.

Beribadah dari rumah juga membuat saya merana, pernikahan yang mestinya dilangsungkan pada 18 April 2020 terpaksa diundur sampai waktu yang tak tentu karena seluruh gereja, khususnya Keuskupan Agung Semarang meniadakan seluruh kegiatan ibadah di gereja termasuk sakramen pernikahan.

Menjadi pengangguran mendadak, perkuliahan yang tak biasa dan penelitian yang tersendat, dan lebih-lebih menunda pernikahan hingga waktu yang tak tentu membuat saya tertekan. Lebih lagi karena sejak pertengahan Maret hingga awal Juni hampir sepanjang hari saya hanya di rumah saja.

Di rumah tanpa interaksi dengan orang lain membuat rasa khawatir dan rasa takut melingkupi pikir sepanjang hari dan setiap malam. Alih-alih punya banyak waktu luang untuk menulis dan belajar online, saya malah merasa tertekan rasa khawatir dan takut itu sehingga produktivitas menurun drastis. Saya sulit tidur hingga adzan subuh, bangun tengah hari, rebahan sampai petang, dan tak tenang saat malam. Waktu saya habis di depan layar laptop dan gadget untuk bermedsos, main gim, dan nonton youtube yang tak ada manfaatnya.

Dalam masa-masa sulit semacam ini saya tahu, satu-satunya menjaga kewarasan batin dan pikir hanyalah dengan tetap terkoneksi dengan Sumber Energi, lewat eksamen, meditasi, dan jurnaling. Tapi, tubuh rasanya tak punya energi untuk meditasi barang 5 menit, tapi kuat main gim sepanjang hari. Malas rasanya eksamen, tapi betah nonton Youtube hingga larut. Juga merasa tak punya waktu untuk jurnaling. Bahan-bahan doa juga rasanya kering, tak pernah terhubung dan konsolasi. Bukannya melatih rasa dan batin tapi hanya sekadar rutinitas menalar bahan doa.

Pada masa-masa tertentu rasa ini amat menyiksa tubuh, pikir, dan mental. Migrain saya sering kambuh lagi, pikiran sulit fokus dan konsentrasi pada tugas-tugas utama dan penting, mental juga tak tenang dan jenak. Hiburan saya hanya bertemu anak-anak tetangga yang sering bermain di rumah, dan bertemu Widya untuk sharing. Apalagi masa karantina ini malah meneguhkan saya bahwa saya memang tak suka keramaian, saya lebih suka nonton Youtube atau baca buku daripada video call grup yang tak jelas arahnya pembicaraannya, ya tentu saya yang salah berharap pada obrolan yang memang tujuannya adalah senang-senang. Saya juga tak pernah tertarik reuni, cuap-cuap, atau sekadar “nongkrong” di Zoom, saya lebih memilih tidur daripada kumpul di Zoom.

Tak senang keramaian bukan berarti saya tak pandai bergaul dan tak senang berjumpa dengan orang. Berjumpa orang lain tetap menjadi kebutuhan, tapi hanya perjumpaan-perjumpaan tertentu seperti membuat IG Live bersama Bro Steve, seorang anggota DPRD DIY, membicarakan aktivitasnya selama pandemi Covid-19. Demikian juga saya dengan senang hati menjadi moderator diskusi Pancasila bersama anggota DPRD DIY. Juga masih mau menghadiri diskusi via Zoom bersama Rhenald Kasali, Yanuar Nugroho, A. Prasetyantoko, dan lainnya yang saya anggap membicarakan hal penting.

Termasuk juga saat hari ini berjumpa melalui Zoom dengan seorang Jesuit Indonesia yang sedang studi di QUT Brisbane. Perjumpaan ini mulanya untuk melakukan koreksi online bukunya yang sedang saya layout dan hanya butuh tak lebih dari 20 menit untuk keperluan ini. Tetapi ia kemudian bertanya tentang studi saya. “Macet, Mo. Saya kehilangan motivasi dan semangat belajar,” kata saya padanya. Tapi bukannya dinasehati dan disemangati, ia malah mengatakan hal itu biasa saja sambal menertawakan saya. Maksudnya, tak perlu lah terlalu galau pada sesuatu, bisa jadi persoalannya tak sebesar yang dibayangkan.

Saya mulai cerita padanya bahwa budaya akademik sebagai peneliti merupakan dunia baru, karena saya “lahir” dari sekolah-sekolah kampung yang letaknya di tengah perkebunan kopi, perguruan tinggi tempat saya menamatkan S1 juga hanya sekolah tinggi yang total gedungnya tak lebih besar dari gedung perpustakaan kampus saya sekarang. Maksudnya, saya tak punya kebiasaan membaca teori-teori terkini, jurnal-jurnal ilmiah, diskusi metodelogi penelitian, dan cara-cara belajar universitas besar. Menjadi mahasiswa S2 di UAJY adalah budaya baru bagi saya.

Saya tak terbiasa membaca bahan-bahan dari buku berbahasa Inggris, saya gagap mencari jurnal-jurnal ilmiah di situs-situs yang namanya saja sangat asing di telinga saya, saya juga tak pernah memahami dasar-dasar metode penlitian yang ternyata sangat luas cakupannya. Bahkan, suatu ketika saya masih harus ketik di Google perbedaan kualitatif dan kuantitatif. Setelah saya ceritakan duka saya yang mengharapkan simpati dari Jesuit itu, lagi-lagi ia malah menyederhanakan kesulitan saya yang rumit itu dengan saran sederhana: membaca.

Setelah mendengar latar belakang topik penelitian saya yang gagal sebelum mulai itu, tanpa basa-basi ia malah bilang kalau penelitian saya tak akan menemukan hal yang menarik karena kepemimpinan tak sekadar muncul dari sebuah pelatihan singkat yang akan saya teliti itu, tapi hasil dari proses panjang pelatihan paralel selama 3 tahun masa studi siswa Kolese.

Singkatnya, ia memberikan tawaran melakukan kolaborasi penelitian. Ia punya program pelatihan selama sebulan dan telah melakukan pengumpulan data sebelum dan sesudah program untuk mengukur Well Being peserta program yang dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tak mendapatkan program.

Karena ia juga tahu saya sedang tak tersambung dengan Sumber Energi, maka ia juga menawarkan program Latihan Rohani (LR) dengan skripsi (tesis), yaitu menggunakan proses penelitian tesis sebagai bahan LR. Bahan bacaan yang biasa diambil dari Kitab Suci atau bacaan rohani lainnya diganti dengan bahan penelitian seperti jurnal dan buku. Refleksi yang biasanya diambil dari pengalaman doa diubah dengan merefleksikan proses melakukan penelitian. Termasuk juga secara rutin melakukan percakapan rohani yang biasanya bersama pembimbing rohani berdasarkan proses pengolahan rohani diubah menjadi percakapan berdasarkan proses penelitian.

Dari dinamika batin selama masa karantina ini sampai tawaran berlatih rohani dengan tesis ini, saya merasa Sumber Energi itu tak pernah bosan menyapa, menemani, dan menopang segala kesulitan saya dengan sangat tepat. Saya butuh pembimbing rohani dan pembimbing penelitian, Sang Sumber Energi mengirimkan seseorang untuk memenuhi keduanya.

Untuk itu saya ingin momentum ini menjadi kebangkitan daya untuk kembali ke arah tujuan penciptaan, menjawab panggilan Sumber Energi untuk dapat segera memantasakan diri menjadi sumber energi bagi sesama. Sebab kalau saya terlampau lama ngelokro maka saya melewatkan banyak waktu dan peluang untuk menjadi lebih baik dan berguna bagi semesta.

Bangkit! Bersama Sumber Energi.

Yohanes Bara
Cangkringan, 2 Juni 2020 – 02.12