Hari ini saya ingin membuat “catatan” pada diri saya sendiri mengenai Jebakan Jiwa Tua. Tua belum tentu matang, karena matang adalah proses waktu yang membuat sesuatu menjadi manis, berbuah, berkualitas, dan bermanfaat. Tua itu seperti batu candi, sejak dibuat sampai berlumut, bentuknya tetap sama, taka da yang berubah selain usia – tua.

Catatan ini saya buat karena kejengkelan, pada orang-orang tua (ingat, tua bukan matang) di sekitar saya, sekaligus kekhawatiran menjadi tua seperti mereka. Tua yang dimaksud dalam tulisan ini juga tak melulu bicara usia, tetapi tua yang berarti usang, ketinggalan zaman, berpikiran tertutup, yang tentunya bisa dialami juga pada orang usia muda.

Makanya, jika pembaca adalah kelompok tua yang tidak open minded, sebaiknya jangan melanjutkan bacaan ini. Anda mungkin tak terima catatan ini dan malah memaki saya.

Mengapa saya perlu khawatir terjebak pada jiwa tua atau usang? Karena jebakan itu “mengerikan”, seseorang yang mandeg dan terjebak pada romansa masa lalu yang sudah ketinggalan secara konsep dan gagasannya. Dalam hal ini bukan berarti gagasan masa lalu itu jelek, karena sangat banyak gagasan dan konsep masa lalu yang keren dan masih sangat relevan untuk masa kini dan masa depan.

Kemandegan yang saya maksud adalah lawan makna dari open minded yaitu close minded atau berpikiran sempit dan tertutup. Maka ketika ketertutupan pikiran itu terjadi, pada usia berapa saja, pada saat itu jiwanya menjadi usang. Karena tak membuka pikiran pada gagasan yang berbeda, menganggap yang ia pikirkan adalah yang paling benar.

Dari pengamatan dan refleksi saya dalam interaksi dengan orang berusia jauh lebih tua, saya mencatat:

  • Kebanyakan bercerita masa lalu

Kita hari ini adalah bentukan masa lalu, dari pengalaman, perlakuan keluarga, luka batin, pengalaman pencerahan, keprihatinan, dan lainnya. Oleh sebab itu tentu wajar jika manusia hari ini berbicara tentang masa lalunya.

Namun, yang dimaksud adalah bercerita masa lalu yang di luar konteks pembicaraan. Saya berikan dua contoh ilustrasi sebagai penjelasan:

Saat saya menjalani kursus persiapan perkawinan, dalam sesi komunikasi seorang pemateri lebih banyak bicara tentang masa lalunya yang berjuang meningkatkan perekonomian keluarga, bercerita kesuksesan investasinya pada aset tanah, bagaimana anak-anaknya bisa menjadi juara dan berprestasi dan sekarang bekerja di perusahaan ternama.

Ia tidak bicara materinya – komunikasi. Ia terlalu banyak bercerita masa lalu yang tak ada kaitannya dengan komunikasi. Tentu cerita pengalamannya selama puluhan tahun tentang komunikasi akan lebih menarik ketimbang bahan yang enggak nyambung.

Cerita lainnya saat saya sedang rapat untuk membuat program pendampingan orang muda, seorang penanggungjawab program lebih banyak cerita tentang dirinya yang sukses sebagai dosen dan menceritakan pertemuan-pertemuan nasionalnya yang tidak nyambung juga dengan bahasan. Kesan yang saya tangkap, ia ingin menceritakan kisah suksesnya saja, dengan kedok presentasi program.

Dugaan saya, jiwa tua semacam itu terjebak dalam perjuangan dan kesuksesan masa lalu, dan mencari pengakuan atas karya dan keberhasilannya. Selain itu, saya kira juga jiwa tua kebutuhannya adalah didengarkan. Meski kita yang muda-muda ini jenuh juga mendengar kisah yang terkesan pamer daripada refleksi perjuangan hidup.

  • Menggunakan alat bantu jadul

Teknologi semakin berkembang, jika dunia kita adalah dunia yang memerlukan komunikas dua arah, seperti profesi dosen, guru, pendidik, trainer, marketing, pembicara, dan sejenisnya, maka kita membutuhkan alat bantu yang mendukung seperti pointer dan ppt yang representatif. Jebakan tua/usang pada poin kedua ini adalah kelompok yang tak bisa mengikuti perkembangan zaman.

Dalam kasus ini saya pernah mendapatkan sesi materi yang ppt-nya adalah scan dari kertas dengan tulisan mesin ketik manual dan buram agak gelap. Bagi saya, tak perlu semua teknologi dipelajari dan digunakan, tetapi pilih dan gunakan sarana teknologi yang ideal.

Sudah ada masalah dalam bahasa penyampaian yang ada gap dengan pendengar masa kini, masih ditambah alat-alat pendukung yang amat sangat jadul. Selesai sudah.

  • Joke yang garing karena gap usia

Joke atau candaan dalam meyampaikan materi tentu dibutuhkan untuk menarik kembali perhatian audience, tetapi karena perbedaan usia dan masa, sering kali candaan yang dilontarkan kaum tua ini agak garing. Tentu bukan karena perbedaan dunia dan generasi, tetapi kemalasan atau keengganan kelompok tua untuk mengenal dunia anak muda zaman ini, sehingga yang ia lontarkan selalu bahan masa lalu yang  bagi anak muda itu garing.

  • Biasanya, biasanya, biasanya

Karena besar dengan prosedur operasi standar (Standard operating procedure), kaum lama terbiasa dengan kerje step by step dan kaku. Ini membentuk mentalitas biasanya, biasanya, biasanya. Biasanya begini kok, ngapain diubah; biasanya dengan cara ini kok, ngapain diganti. Kaum tua selalu terjebak pada kata biasanya.

Maka itu, kaum tua tak pandai menemukan ide, gagasan, dan cara baru, karena hanya mengikuti prosedur saja. Dan ketika ada ide baru yang penuh risiko, kebanyakan kaum tua tidak yakin untuk melakukan eksekusi.

  • Takut konflik

Daripada rebut-ribut, lebih baik bertemu di tengah alias kompromi. Padahal, banyak hal saat ini yang membutuhkan ketegasan. Tetapi ketegasan sering kali menimbulkan perbedaan yang kemudian melahirkan konflik.

Jika milenial dibesarkan dalam tatanan kolaborasi dan penuh perbedaan, kelompok tua yang terbiasa dengan persamaan dan prosedur agak kesulitan untuk berani ambil risiko dan berkonflik.

Catatan-catatan ini bukan saya buat untuk mengkritik kaum tua, tetapi sebagai catatan kaum muda, saya, untuk membaca kaum tua yang usang dan tidak mengikuti pilihan sebagian kaum tua yang close minded. Sehingga bagi saya dan orang muda lainnya, dengan membaca tanda-tanda keusangan di atas dalam menentukan arah yang berbeda agar dapat terus berpikiran terbuka dan kolaboratif.

Cangkringan, 29 Januari 2020