Sejak mata terbuka kita sudah disajikan pilihan untuk teruskan tidur atau segera bangun, pilihan berikutnya adalah tetap glengsotan di kasur sambil stalking doi, nonton YouTube, ngegim, atau segera beranjak mandi. Setalah mandi, ada pilihan untuk sarapan, baca koran, siram tanaman, atau langsung berangkat ke tempat rutinitas seperti sekolah atau kantor.  Begitulah, jika dijabarkan maka artikel ini akan penuh dengan narasi beragam pilihan.

Jika kamu diminta memilih makan bakso atau mie ayam, mungkin kamu mulai galau karena lagi pengen makan bakso tapi juga kangen rasanya mie ayam. Memilih bakso atau mie ayam tentu hanya beda di lidah saja, tidak beresiko apa-apa, apalagi kamu bisa pilih alternatif ketiga: mie ayam bakso.

Seandainya ragam pilihan ada alternatif ketiga seperti mie ayam bakso, hidup ini rasanya akan lancar jaya tanpa menimbulkan kegalauan yang akut sampai rasa ingin bunuh diri. Sayangnya hidup tak hanya bicara soal bakso atau mie ayam.

Hidup ini soal pilihan seperti ini:

Untuk memilih bakso atau mie ayam, kamu hanya butuh paling lama 2 menit untuk menentukan pilihan. Tapi mana yang  kamu  pilih, antara jurusan kuliah yang kamu senangi atau pilihan orang tua? Apalagi jurusan pilihan kamu itu bertentangan dengan pilihan orang tua, seperti seni dengan kedokteran. Kamu merasa bahagia di dunia seni tapi orang tua ingin kamu sukses dan jadi dokter. Bagaimana, sudah menentukan pilihan?

Jika kamu punya pilihan kuliah di A atau B, kamu bertuntung, banyak sahabat kita tak punya pilihan apa-apa untuk kuliah. Demikian juga soal pekerjaan, tempat tinggal, kesempatan, dan lainnya. Tapi kita tak bicara soal rasa syukur di artikel ini, kita bicara soal cara memilih.

Berikutnya, mungkin kamu hanya butuh waktu sehari untuk menentukan Samsung S10+ atau iPhone XS Max. Butuh seminggu untuk memilih Andre yang perhatian atau Joko yang kaya. Butuh sebulan untuk menentukan melanjutkan studi S2 di mana dan jurusan apa.

Tetapi ternyata urusan Samsung, iPhone, Andre, Joko, atau pasca sarjana meskipun pilihan-pilihan yang sulit, tidak termasuk pilihan yang berdampak besar dalam hidupmu dan orang sekitarmu. Karena terkadang kita harus mengambil keputusan seperti: kerja di dekat rumah sehingga bisa merawat orang tua yang sakit tetapi bergaji kecil sehingga kesulitan beli obat, atau kerja jauh dan bergaji cukup untuk beli obat tetapi tak bisa menemani masa-masa kritis orang tua. Melahirkan bayi tetapi mengancam keselamatan sang ibu atau menggugurkan bayi. Membayar sekolah adik atau beli obat untuk kakak. Jadi romo/suster atau menikah.

Kalau levelmu masih pada bangun atau snooze, pakai renda-renda atau g-string, kemeja hitam atau flanel, KLX atau Ninja, Fortuner atau Pajero, ya itu belum apa-apa, apalagi kalau pilihan sepele sehari-hari begitu saja sudah bikin galau, ya mari kita tengok orang di sekitar kita yang hidup berjuang tanpa banyak syarat.

Kerap kali pilihan-pilihan yang hendaknya ditentukan matang-matang dan independen, justru berdasarkan penilaian orang. Misalnya, sebenarnya cukup dengan handphone bermemori 8 gigabyte tetapi karena gengsi kemudian membeli yang 1 tera, atau “memaksa” membeli yang mewah-mewah supaya dilihat dan dipuji orang. Henry Manampiring dalam bukunya berjudul Filosofi Teras (2019) menyampaikan bahwa ketika kita meletakan bahagia pada penilaian orang maka kita akan stres tak berkesudahan.

Tetangga membeli kulkas, kita ikut beli. Teman beli gadget terbaru, kita ikut beli. Teman liburan ke Raja Ampat, kita juga ikut. Meskipun sebenarnya belum butuh kulkas, gadget terbaru, atau ke Raja Ampat. Meskipun kadang memaksa kantong untuk sekadar mendapat mengakuan dan penerimaan yang dikonversi dalam jumlah like di sosial media.

Ajakan dari tulisan ini adalah mempelajari sedikit tentang seni mempertimbangkan, dalam istilah spiritualitas Ignasian disebut Discernment atau Pembedaan Roh, bukan membedakan tuyul dan valak, tetapi membedakan mana roh baik yang mengiringi kita mencapai tujuan dan mana roh jahat yang selalu menggoda kita untuk mengalihkan diri dari tujuan. Sebagai catatan, untuk memilih bakso atau mie ayam kamu tak berlu ber-discernment, cara ini digunakan untuk berani mengambil keputusan penting, memilih yang terbaik dari pilihan yang sama-sama baik.

Jadi, mohon maaf, cara memilih warna pakaian, bakso atau mie ayam, terlalu remeh untuk dibahas di sini, itu hanya remah-remah rempeyek dalam hidup, tetapi kalau kamu sudah dibuat galau akut soal remeh-remeh dalam hidup seperti itu, ya sering-seringlah naik gunung atau memandang laut, supaya luas cara pikirmu.

Discernment utamanya adalah memilih yang terbaik dari pilihan yang sama-sama baik. Misalnya kita ambil kasus: kerja di dekat rumah sehingga bisa merawat orang tua yang sakit tetapi bergaji kecil sehingga kesulitan beli obat, atau kerja jauh dan bergaji cuku untuk beli obat tetapi tak bisa menemani masa-masa kritis orang tua. Ini pilihan yang sulit, punya uang tapi tak bisa menemani orang tua (anak, istri, suami, dll) yang kritis atau kesulitan membeli obat tapi bisa menemani. Ingin kita kan seperti pada pilihan mie atam bakso, kerja dekat rumah dan bisa menemani orang tua.

Pilihan sulit semacam ini harus mengandalkan rahmat Tuhan, untuk menemukan mana yang terbaik.

Langkah pertama adalah melakukan kontemplasi, yaitu memutar imajinasi dalam pikiran tentang segala alternatif yang memungkinkan. Dalam hal ini, kita kontemplasikan alternatif pertama: bekerja jauh dan bisa beli obat. Juga alternatif kedua: ada uang untuk beli obat tapi tak bisa menemani masa kritis. Keduanya dibayangkan dalam pikiran, apa-apa saja yang kiranya terjadi dan mesti dilakukan.

Langkah kedua adalah mempertimbangkan, di proses ini buatlah tambel seperti ini:

Langkah ketiga adalah menimbang-nimbang plus minus dari kedua pilihan itu.

Langkah keempat adalah membawa pilihan yang sudah melalui pertimbangan itu dalam doa dan memohon rahmat Tuhan untuk memberi petunjuk apakah pilihan itu sudah tepat. Dalam proses doa ini, rasakan gerak roh mengarahkan pada pilihan yang mana. Jika sudah yakin atas pilihan itu. Jalankan.

Discernment semacam ini bisa dilakukan untuk segala macam pilihan sulit, termasuk memilih pacar, pekerjaan, karir, dan keputusan-keputusan sulit lainnya. Tapi mohon jangan dipakai untuk memilih bakso atau mie ayam, saya khawatir warung baksonya sudah tutup ketika kamu menemukan jawaban.

Selamat ber-discernment.

Salam,
Yohanes Bara – yohanesbara@gmail.com