examen

Sore menjelang, masa terbaik bagi sebagian untuk sejenak rehat dari penat dan giat. Aku masih sendiri, cara terbaik adalah dengan bertemu diri. Minggir ke pinggir kali sebelah rumah salah satu lokasi asri yang sunyi – kadang-kadang. Sebab kalau aku dibuntuti Ibnu, Sinta, Irma, Diki, dan bocah lainnya, sungai ini tak lagi sunyi, juga ketika para ibu mencuci atau mandi.

Kebanyakan anak-anak yang aku kenal atau baru kenal bisa cepat akrab denganku, mulai dari malu-malu, ajak gojekan, sampai tak malu minta gendong sambil bermanja-manja. Kadang, aku takut para orang tua mengira aku “penyuka” anak-anak alias predator anak, karena nyatanya memang aku menyukai anak-anak.

Sikap mereka tak pernah beda dengan hatinya, tutur sejalan dengan pikir, sikap jujur juga menjadi khas yang otentik seorang anak. Kata orang, “anak-anak tak bisa bohong”, kalau boleh aku menambah “tapi anak-anak bisa salah dan boleh salah”, sebab rumah dan pendidik mereka berbeda satu dengan lainnya, mereka punya standar kebenaran dan kesalahan masing-masing.

Semua anak-anak yang berinteraksi langsung denganku harus menebus kesalahan yang tak mereka sadari: buang sampah wajib di tempatnya, satu sama lain harus berteman dan menjaga, minta maaf saat berbuat salah, dan prinsip sederhana lainnya. Termasuk juga untuk tidak saling bentak dan teriak, dekati dan sampaikan maumu.

Kalau anak-anak, khususnya Ibnu, keponakanku, selalu menggedor pintu rumah saat melihat motorku terparkir di luar, itu maunya mereka, sebab banyak orang dewasa menilaiku orang yang tertutup. Ya, pulang malam langsung lanjut bekerja di rumah atau aktivitas pribadi seperti membaca dan menulis tanpa membuka pintu atau jendela. Membuka pintu berarti membuka percakapan, demikian persepsi yang mungkin ditanggap para tetangga. Karena setiap aku buka pintu, bahkan sekadar untuk menyapu lantai, tetangga biasanya bertamu, ngobrol di atas kasur lusuh tanpa sprei di ruang tamu yang berserakan buku dan koran. Tapi bagi anak-anak, mereka tak peduli sedang apa aku di balik pintu, jika ingin bermain, mereka gedor dan dengan senang hati bangun dari tidur atau menghentikan aktivitas.

Bicara buku, sejak pulang dari mondok sebulan di Bilik Literasi, aku senang berbagi buku. Beberapa anak-anak tetangga sudah buku-buku dariku, sebagian besar buku cerita sahabat Nabi Muhammad dan buku moral Islam untuk anak-anak. Kadang kuberikan langsung, lain waktu kutitipkan pada bapaknya.

Bicara buku Islam, aku mendengar slentingan tetangga bahwa aku akan mualaf, landasannya karena sering berbagi buku Islam, ikut tahlilan, ikut kenduri, dan malam kemarin ikut pengajian di Ponpes Ora Aji asuhan Gus Miftah.

Buku, tahlilan, kenduri, dan pengajian adalah saranaku membaur sebagai satu-satunya Katolik di lebih dari 100 kepala keluarga Islam. Memahami Islam adalah memahami para pemeluknya. Jika kemudian dimengerti berbeda, itulah bedanya anak-anak dengan orang dewasa.

Jauh dari sekadar memahami ajaran tertentu, lebih penting memahami sesama dengan ragam budaya, agama, dan watak. Bagaimana turut berduka pada masalah sesama, bergembira dalam harapan bersama. Aku ingin menjadi lebih berguna, bukan untuk membesarkan nama, tapi barangkali jika Tuhan merestui, biarkan aku jadi sarana membantu meningkatkan ekonomi warga dan pendidikan anak-anak. Sebab kami orang kampung juga manusia yang punya hak sama dengan orang kota atau orang luar negeri.

Jika saja suatu ketika nanti ada yang menyebut kristenisasi (padahal aku Katolik), salahkan saja, sebab lebih baik jadi Islam yang berguna bagi semesta daripada Katolik yang kurang berguna. Aku turut mendoakan saudara-saudara Islam, sebab kakek-nenekku juga Islam, semua keluarga besarku juga Islam. Hanya Ibu dan kemudian aku yang Katolik. Mendoakan baik untuk orang Islam artinya mendoakan baik juga untuk keluargaku.

Bicara soal doa, rasanya banyak sekali yang kesulitan “menemukan” Tuhan. Sudah rajin ekaristi, hati masih terasa kering, makin rajin justru semakin kering. Ada juga mengaku aktivis dan menganggap jasanya membantu sasama bisa sebagai pengganti ekaristi. Mungkin cerita ini bisa menjadi ilustrasi: suatu ketika seorang petualang tiba di pantai, ia merasa sangat kelelahan dan memohon Tuhan untuk meringankan bebannya. Ia menengok ke belakang dan melihat garis panjang, bekas tapakan kakinya yang semakin dia mengeluh semakin dalam. Setelah berkali-kali mengeluh karena bantuan tak lekas datang, ia terkejut saat melihat cerminan dirinya di air sisa ombak yang mengering perlahan. Ternyata, selama ini tapak kaki itu bukan miliknya, melainkan milik Tuhan yang selama ini menggendongnya.

Lewat cara Ignasian, khususnya examen, aku menemukan cara bercakap-cakap dengan Tuhan, aku merasa Dia dekat dan mudah ditemui. Examen adalah ajakan untuk memeriksa batin secara rutin dalam aktivitas sehari-hari, menemukan Tuhan dalam segala yang telah dilalui, baik itu duka lara atau bahagia. Semakin sering bercakap-cakap, aku semakin hafal dengan “suara”-Nya, sehingga akhirnya yang jauh lebih penting adalah membedakan mana suara Tuhan dan mana suara roh jahat.

Dalam percakapan itu, akhirnya aku menemukan, bukan jiwa yang gembira saat ekaristi yang dicari, bahkan sekalipun semakin berdoa merasa semakin kering dan tergoda untuk berhenti berdoa, doa itu harus tetap berjalan. Sekalipun seseorang sangat sibuk dan merasa tak punya waktu, justru cara seperti examen semakin relevan untuk orang sibuk semacam itu, karena tak perlu waktu lama dan bisa dilakukan kapan saja (sebaiknya siang hari dan menjelang tidur) dan di mana saja.

Demikian yang aku lakukan di sungai, tahlilan, kenduri, pengajian. Bukan terhisap dalam aktivitas itu, tapi mencari pesan Tuhan dalam aktivitas itu. Apa yang Ia katakan di sungai atau melalui tahlilan, kenduri dan pengajian, sehingga aku tak terjebak pada sekadar aktivitas tapi mencoba menimba makna yang Tuhan kirim melalui examen.

Bara
Cangkringan, 21 Juli 2019