bara widya

Barawidya.id – Dalam sebuah pelatihan kepemimpinan di Yogyakarta, ada seorang peserta dari luar kota yang cukup unik, kerana ia membawa ikan cupang ke area pelatihan yang sebenarnya harus steril dari gadget, alat komunikasi, dan barang-barang yang tak perlu. Karena sudah terlanjur dibawa dan ia memilih pulang jika tidak diizinkan tetap membawa cupang itu, maka kami berikan kesempatan padanya untuk disimpan.

Setelah pelatihan selesai, pria bercupang ini membuat geger rombongan sekota asalnya karena hampir membuat mereka semua tertinggal kereta, soalnya sepele, si cupang nyemplung ke lubang toilet dan dengan heroik si pria memilih tertinggal kereta untuk menyelamatkan cupang itu daripada bergegas ke naik kereta.

Nilai sebuah benda seperti cupang itu biasanya bertambah ketika memiliki nilai tambah cerita. Misalnya, bomber milik Presiden Jokowi pasti lebih bernilai dan mahal dibanding bomber yang sama persis di pasaran. Juga sepatu Nike Air Jordan 1 cacat pabrik milik Andrea Canziani yang dihargai lebih dari 2 milyar karena logo Nike-nya terbalik. Wujud benda dan fungsinya sama, value-nya yang beda. Demikian cupang itu, tidak lebih cupang dari cupang lain, tapi karena kabarnya cupang itu pemberian dari bribikan (seseorang yang didekati untuk dipacari) yang menolaknya dan memberikan cupang itu sekaligus berpesan “jaga cupang ini seperti kamu menjagaku”, maka jadilah cupang itu istimewa untuknya.

Kelekatan pada seekor cupang itulah yang disebut kelekatan tak teratur, sebab seseorang meletakan nilai, cinta, kenangan, kesetiaan, dan kerinduan yang harusnya untuk bribikan pada seekor cupang. Pada lain kasus, bendanya bisa berupa boneka, pakaian, foto, gadget, handphone, media sosial, makanan, prinsip hidup, bahkan seseorang.

Misalnya tak bisa tidur jika tak memeluk boneka pemberian seseorang, maka sekalipun merepotkan akan selalu dibawa kemana pun ia pergi. Merasa tak bisa bekerja jika tak menggunakan handphone, merasa menderita tak membuka media sosial barang sehari saja, tak bisa makan ini dan itu, hanya bisa makan ini dan itu (kecuali alergi), bekerja harus dengan metode dan caraku, juga termasuk dunia serasa tanpa matahari jika tak selalu bersebelahan dengan kekasih di segala waktu dan tempat.

Sakali lagi, boneka, pakaian, foto, gadget, handphone, media sosial, makanan, prinsip hidup, bahkan seseorang itu masih sama dengan sebelumnya dan seterusnya tetap akan sama, tetapi karena kita telah melekat pada benda dan manusia itu, kita menjadi tidak lepas bebas untuk bisa hidup lega tanpa semua hal itu.

Pada 2010 sampai 2012, saya sempat mengalami kelekatan terhadap seseorang, ia adalah seorang perempuan paling cantik di kelas dan baik hati yang saya taklukan setelah menyalip banyak lelaki lain. Saya merasa dia sangat berharga, setiap kali ada dia, semangat saya selalu menyala-nyala dan produktif. Banyak hal kami lakukan bersama, terlebih kegiatan di komunitas dan organisasi.

Saya yakin betul kami berjodoh dan oleh sebab itu kami merencanakan masa depan yang baik. Desember 2011 dia sakit batuk, pada 18 April 2012, tepat hari jadi kami, dia ke dokter untuk periksa dan divonis tumor mediastinum, Mei 2012 ia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit dan di pelukan saya.

Saya patah hati, remuk, dan hancur, selama setahun saya hanya kuliah saat ada UTS dan UAS, saya menghentikan semua aktivitas di radio, majalah, organisasi , dan komunitas. Sepanjang hari saya hanya di kamar dan hanya keluar untuk makan, urusan ke belakang, dan ke atm, selama setahun. Sepanjang hari saya hanya tidur, memandangi foto-fotonya atau kami, menangis sampai lelah dan tertidur, bangun tidur, teringat dengan dia dan menangis sampai lelah lagi. Terus demikian dari hari ke hari. Saya merasa sangat terpukul dan kehilangan. Dan rasa kehilangan itu membuat saya menderita, menderita karena tidak lagi bisa merasakan cinta dan perhatian darinya, menderita karena seolah-olah dunia saya sudah usai, menderita karena potensi saya macet.

Penderitaan muncul karena saya kehilangan sosok yang setiap saat menemani beraktivitas, kehilangan perhatian yang selama ini saya dapatkan darinya, kehilangan kenangan manis bersamanya. Saya terlanjur lekat padanya, dan kelekatan yang berlebihan itulah sumber penderitaan, bukan pada kembalinya ia pada Sang Khalik.

Kelekatan menjadi sumber penderitaan karena melekatkan seseorang pada benda atau orang lain secara tidak teratur dan berlebihan. Membuat seseorang “mati” karena kehilangan benda atau orang lain baik hubungan pertemanan atau jiwa. Membuat seseorang seperti kecanduan pada benda atau orang lain. Kelekatan adalah lawan dari kemerdekaan jiwa yang lepas bebas.

Kemerdekaan jiwa itu: “Memanfaatkan segala ciptaan untuk menolong mencapai tujuan penciptaan. Oleh karena itu harus mempergunakan sejauh menolong tujuan penciptaan, dan harus melepaskan sejauh merintangi mencapai tujuan penciptaan” (lih. LR 23). Jika pelatihan di atas adalah sarana yang baik bagi lelaki cupang untuk mencapai tujuan ia diciptakan maka perlu mempertimbangkan apakah membawa cupang kemana ia pergi merupakan sarana atau justru sebaliknya. Tentu kita sepakat cupang justru merintanginya untuk lebih maksimal menyimak sesi-sesi pelatihan dan pada waktu tertentu harus memberi makan ikan, bahkan ia lebih mementingkan ikan dari perjalanan nyatanya sendiri bersama teman-temannya.

Pada pengalaman saya depresi selama setahun, akarnya bukan kehilangan seseorang yang dicintai, tetapi kelekatan saya padanya, sehingga saat kami terpaksa berpisah rasanya sangat menyakitkan. Semakin lekat pada sesuatu, semakin besar penderitaannya.

Dalam hidup sehari-hari lekat itu bisa pada: keheningan, kalau tidak sunyi tidak bisa bekerja dan berpikir. Handphone, perasaan menjadi gelisah jika tak membawanya. Suhu udara, harus memakai pendingin udara untuk tidur atau tidak bisa tidur semalaman. Internet, hanya bisa bekerja dan kreatif jika ada internet. Kendaraan pribadi, kalau motor atau mobil sedang service, enggan menggunakan kendaraan lain. Kebersihan, segalanya harus hygiene dan merasa gelisah dengan sedikit kotor. Hanya bisa presentasi dengan proyektor. Media sosial, harus mengunggah dan melihatnya setiap saat. Kemerdekaan hilang karena melekatkannya pada benda atau orang.

Prinsip pokok dari kemerdekaan adalah “dengan sarana yang ada akan kumanfaatkan semaksimal mungkin,” atau dalam arti lain “ada akan kugunakan, jika tidak ada, tidak menjadi masalah”. Misalnya kelekatan pada orang lain untuk membantu kita, “baiklah, aku berharap dan berterimakasih jika kamu bisa membantuku, kalaupun tidak, aku akan baik-baik saja melakukannya sendirian”.

Hidup merdeka adalah milik semua manusia, justru manusia sendiri yang menggadai kemerdekaan itu pada benda dan manusia lain. Ajakan hidup merdeka bukan berarti hidup minimalis, seadanya, atau nrimo. Maksud mempergunakan sarana yang ada itu adalah setelah diupayakan untuk ada dan tidak menjadi masalah jika memang terpaksa tidak ada. “Baiklah, saya butuh presentasi menggunakan proyektor, tapi kalau tidak ada, saya akan pergunakan sarana lain yang membantu.” Bukannya, “Saya hanya bisa presentasi menggunakan proyektor, kalau tidak ada saya tidak jadi presentasi.”

Baca: Anti Galau Menentukan Pilihan

Bukan berarti sarana-sarana seperti handphone, proyektor, internet, dan media sosial tidak penting. Tetapi dipergunakan sejauh itu menolong tujuan hidup kita, atau lingkup kecil, sejauh menolong dan mendukung pekerjaan kita. Ditinggalkan jika justru menjadi penghambat pekerjaan. Untuk membedakan kedua hal ini sangat simple: digunakan jika membantu, lepaskan jika menghambat. Jadi, bedakan saja apakah sarana itu membantu atau menghambat. Ukurannya apa? Jika pekerjaan semakin lancar dengan sarana itu, gunakan. Jika pekerjaan malah menjadi kacau, tinggalkan. Demikian juga untuk memilih kegiatan, komunitas, pekerjaan, pacar, dan lainnya. AMDG.

Salam,
Yohanes Bara – yohanesbara@gmail.com