Barawidya.id – Sehari atau dua hari setelah melakukan olah raga berat, biasanya badan mengalami DOMS atau delayed onset muscle soreness. DOMS adalah nyeri atau kekakuan yang ditasakan pada bagian tubuh yang mengalami tekanan cukup intensif selama olah raga.

Bagi orang yang memilih olah raga fitnes atau angkat beban, pasti akan mengalami DOMS setelah melatih bagian-bagian ototnya, ia akan merasakan nyeri di dada setelah menjalankan beberapa set latihan chest, demikian juga saat melatih biceps, triceps, abs, shoulders, dan lainnya.

DOMS adalah kerusakan kecil pada serat otot akibat tekanan olah raga, otot kemudian menyesuaikan dengan ikut memperkuat strukturnya. Artinya, untuk mendapatkan otot yang lebih besar dan kuat, otot harus mengalami tekanan “perusakan” melalui angkat beban. Semakin dilatih angkat beban dengan tepat, otot akan semakin kuat.

Sayangnya, DOMS ini menyakitkan, kamu akan merasakan nyeri sampai tiga hari setelah fitnes awal. Rasa nyeri ini membuat sebagian orang kapok untuk melanjutkan latihannya. Padahal, sebenarnya DOMS hanya terjadi di awal, saat siklus pembentukan otot sudah selesai ya tubuh akan enak seperti biasanya. Tetapi, muncul lagi saat kamu menambah intensitas latihan, namun pada tahap ini nyerinya tidak seperti pertama latihan karena ototmu sudah lebih kuat. Demikian seterusnya, semakin “ditekan” semakin kuat.

Cara kerja tubuh memang demikian, ia selalu bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya. Tubuh punya mekanisme perlindungan diri yang rumit sehingga ia bisa menyesuaikan diri sesuai tempatnya.

Baca: Memahami Keinginan Murni

Analogi otot ini bisa juga dipakai untuk urusan perasaan, Fiersa Besari dalam lagunya Pelukku Untuk Pelikmu menulis “Kita perlu kecewa untuk tahu bahagia, bukankah luka menjadikan kita saling menguatkan”. Persis, Fiersa mengatakan “Enggak apa-apa terluka, itu menguatkan hati kita. Kita juga perlu kecewa untuk tahu bahagia,” padahal terluka dan kecewa itu menyesakkan batin.

Kalau otot yang tak terlatih akan ringkih saat mengangkat beban berat, demikian juga hati yang rapuh akan mudah runtuh disenggol secuil persoalan alias baberan. Jika pada otot ada tahap otot lemah, sedang, dan kuat. Kedewasaan mental juga memiliki tahapan: dependensi menuju independensi.

Dependensi adalah sikap seseorang yang selalu bergantung pada orang lain, apa yang ia lakukan selalu bergantung pada penerimaan orang di sekitarnya, seperti menyesuaikan fesyen, gaya hidup, atau perilaku agar diterima lingkungannya. Alih-alih menjadi dewasa dengan menjadi diri sendiri, ia malah sibuk dengan memoles diri agar diterima dan diperhatikan orang.

Pribadi dependen sangat rapuh pada tekanan atau gejolak batin, misalnya ia akan mudah kecewa, marah, dan mutung saat apa yang ia lakukan tak diterima orang. Ia akan bereaksi “negatif” saat tidak menerima penerimaan,  tapi reaksi “negatif” tak melulu berprilaku negatif. Bagi seseorang yang pemenuhan batinnya dengan prestasi, ia akan terus memburu prestasi agar mendapatkan pujian dan penerimaan, namun kecewa berat saat ia tak mendapatkan apresiasi.

Batin yang sehat adalah batin yang independen, yaitu batin yang terbang dan bergerak dengan bebas tanpa terpengaruh lingkungannya. Ia berprestasi ya arena ingin mengembangkan diri, bukan untuk mencari apresiasi, jadi saat tidak ada apresiasi, ia pun tidak mengalami guncangan batin. Berbeda dengan batin dependen yang selalu terbawa perasaan negatif yang membuat seseorang menjadi ngambek, mutungan, marah, dan kecewa karena tak dapat apresiasi yang ia kehendaki, batin independen tetap stay cool saat apa yang ia kerjakan tak mendapat apresiasi, bahkan sekalipun pekerjaan terbaiknya itu ditanggapi dengan negatif dengan hinaan, ia pun tak bergeming.

Seperti melatih otot, untuk memiliki batin yang independen ini ia harus mengalami “DOMS” batin. Batinnya harus mengangkat beban batin sedikit demi sedikit yang membuatnya merasakan nyeri batin yang menyakitkan. Tekanan batin itu berupa rasa tidak dicintai, penolakan, disepelekan, dihina, atau bahkan dibuang.

Baca: Anti Galau Menentukan Pilihan

Saat si empunya batin menyerah pada beban-beban ringan karena merasa “nyeri” batin yang menyakitkan, maka ia tak akan memiliki batin yang kuat. Namun, ketika pemilik batin bertahan dalam “DOMS” batin yang menyakitkan itu dan terus mengangkat beban batinnya dengan tegar, perlahan ia akan memiliki batin yang semakin bakoh.

Bagi anak gym pemula, sia-sia dan tak ada gunanya dengan berjerih payah mengangkat 50 kg beban pada awal-awal latihan. Selain karena ia hanya mampu mengangkat beberapa kali, latihan yang tiba-tiba sangat keras ini tidak mengembangkan ototnya. Angkat beban selalu dilakukan bertahap sesuai kemampuan awal dan ditambah sedikit demi sedikit setiap latihan.

Penambahan beban ini bisa dilakukan pada repetisi setiap set latihan dengan misalnya 4 repetisi beban 10 kg, 15 kg, 20 kg, sampai 25 kg pada repetisi keempat, atau meningkatkan beban hari demi hari latihan. Penambahan beban ini dilakukan bertahap dari hari ke hari secara konsisten, karena jika seminggu latihan lalu sebulan berhenti, maka pada latihan berikutnya kamu harus meengulang dari awal lagi karena ototmu kembali melemah.

Latihan angkat beban batin juga demikian, tetapi bukan berarti tekanannya ditambah terus, karena tekanan itu datangnya dari orang lain dan di luar kendali kita. Maksud dari menambah intensitas latihan beban batin ini adalah jika pada awal-awal kamu tertekan akan mengalami kemarahan yang luar biasa, secara bertahap latihlah batinmu menjadi lebih sabar dan terkendali.

Reaksi batin pada latihan awal biasanya sangat berat, seperti dulu saat saya tak punya kendali batin, saat marah reaksi saya adalah teriak-teriak di balik bantal, emosi meledak-ledak, membanting sesuatu, menendang, memukul, dan merusak apa saja yang ada di sekitar saya. Batin itu sama sekali tidak dalam kendali saya. Setiap kali ada tekanan batin dari luar, saya akan meledak.

Tekanan itu pelan-pelan saya latih dan kendalikan, tetapi sangat berat di awal-awal latihan. Saya mengalami “DOMS” batin, rasanya tidak enak menahan amarah dan emosi. Seperti menahan sebuah balon dalam dada dan kepala agar tidak meledak meski terus menerus dihembusi angin.

Meski saya tidak berharap menerima tekanan batin dari orang lain, tapi tekanan batin itu makin lama makin memuakan dan berat. Saya merasa ditinggalkan oleh teman-teman terdekat, diintimidasi oleh orang terdekat, disalahkan atas sesuatu yang tak pernah saya lakukan, dan ada saja tekanan berat yang datang.

Menurut penelitian, DOMS akan hilang dengan sendirinya dan bisa lebih cepat pulih jika mandi dengan air hangat dan makan makanan berprotein tinggi sebagai asupan otot. Itulah saya lakukan untuk mengurangi “DOMS” batin, saya mengambil sesi meditasi beberapa hari dan meneruskannya setiap hari di rumah, melakukan hal-hal yang menyenangkan hati, bertemu dengan orang-orang yang hangat dan baik.

Sebab, pada gym kita bisa memilih beban kita sendiri, tapi tidak demikian dengan tekanan batin, ia bisa datang kapan saja dan berapa saja, kadang hanya tekanan ringan tapi lain waktu beban yang teramat berat dan membuat “DOMS” batin baru.

Tapi setiap kali ada “DOMS” baru artinya otot semakin diperkuat, ini terbukti saat kamu sudah terbiasa mengangkat 50 kg latihan chest, pada kesempatan lain, beban 25 kg rasanya ringan sekali, padahal mulanya untuk mengangkat 10 kg saja rasanya sangat berat. Ketika kita mengalami tekanan batin yang amat berat, itu akan menyakitkan sekaligus semakin menguatkan batin, jika mampu dilampaui, tekanan batin yang lebih ringan tak akan membuat batinmu bergeming.

Saat ini, saya masih bisa merasakan kecewa, marah, muak, benci, dan emosi negatif lainnya akibat tekanan dari orang lain. Tapi berbeda dengan dulu yang menimbulkan reaksi negatif, saat ini saya dengan sadar merasakan perasaan itu tapi dengan penuh kesadaran pula memilih sikap. Karena sudah sadar penuh, saya memilih untuk stay cool saja, bukan berarti cuek, tetapi mengambil jarak pada jebakan emosi yang tidak produktif itu.

Sikap lepas bebas ini melegakan batin, membantu menentukan pilihan dengan lebih jujur dan tuntas, tidak terjebak pada tekanan batin. Tetapi kedewasaan batin juga bukan seperti binaragawan yang terus melatih badan sampai berbentuk seperti Dwayne Johnson. Tujuan melatih batin bukan untuk pamer kekuatan batin tapi untuk mendapatkan kebugaran batin.

Seperti tubuh yang bugar, tidak mudah terserang penyakit. Batin yang bugar, tidak mudah baperan.

Pringgokusuman, 29 November 2019

Yohanes Bara – yohanesbara@gmail.com

Tertarik pada pengembangan orang muda, isu terorisme, dan jurnalistik.
Bekerja di Majalah BASIS, UTUSAN, dan ROHANI.
Kontributor Pusat Media Damai – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.
Founder TOBEMORE Learning Center.
Mahasiswa Program Pascasarjana Magister Manajemen (SDM) – FE UAJY
.