bara widya

Barawidya.id – Ketika usia taman kanak-kanak, Ibu membelikan sebuah Keyboard Casio, mungkin ia punya harapan supaya saya bisa memainkannya, 25 tahun berlalu saya tetap tidak bisa memainkan piano atau keyboard. Saat itu, saya malah heran mengapa keluar suara semacam lonceng setiap memijit tuts, pikiran polos seorang balita adalah ada sesuatu yang dibenturkan di bawah tuts, maka yang saya lakukan adalah mencari obeng untuk mencongkel tuts keyboard itu, satu tuts tercongkel patah yang saya lihat hanya karet bulat berwarna krem yang lembek. Merasa tak menemukan sumber suara yang dicari, saya congkel lagi sampai lebih dari 3 oktaf, dan semuanya sama.

Ketika itu, Ibu sempat bertanya mengapa saya mencongkel tuts-tuts keyboard itu dan ia membiarkan apa yang saya lakukan – merusak. Setelah dewasa, baru saya sadari betapa polosnya masa kecil itu, dan mencoba mengukur diri sebagai orang tua, apakah saya sesabar Ibu. Rasanya saya akan mencak-mencak kerena alat musik semahal keyboard “dihancurkan” begitu saja hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu yang konyol.

Cerita ini kira-kira ingin menyampaikan bahwa sejak kecil manusia sudah berkeinginan, dalam cerita ini keinginan saya adalah ingin tahu sumber suara lonceng. Keinginan masa kecil saya lainnya adalah punya sayap supaya bisa terbang seperti burung, punya mobil yang bisa menyelam sehingga saya bisa lihat ikan-ikan besar, punya kembang api yang tak bisa padam, dan punya adik supaya saya ada teman bermain.

Semakin dewasa kita tahu antara imajinasi dan nyata, meskipun yang imajinasi pun bisa jadi nyata. Tetapi semakin pandai membedakan mana nyata mana imajinasi, saya malah nyaman pada imajinasi, karena menyenangkan dan menggembirakan. Saya sering berimajinasi membuat kompleks pertanian organik yang memadukan peternakan, perikanan, dan pertanian, kemudian diundang Kick Andy atas karya itu. Juga berimajinasi punya semacam Rumah Perubahan milik Prof Rhenald Kasali yang bisa menjadi training center bagi masyarakat dan orang muda.

Imajinasi juga bisa disebut sebagai keinginan, bedanya pada berusaha diwujudkan atau tidak. Misalnya, imajinasi saya tentang pertanian organik itu, tidak lagi jadi imajinasi kalau ada satu langkah sederhana mewujudkannya, seperti membuat aquaponik kecil di teras rumah. Dan tetap imajinasi jika hanya menjadi imajinasi atau khayalan. Seperti berimajinasi pacaran dengan perempuan paling cantik di kelas, sejauh ada upaya pedekate, imajinasi itu menjadi keinginan, meskipun akhirnya ditolak doi, itu lain soal.

Keinginan manusia yang utama adalah diterima dan diapresiasi, turunannya bisa beragam bentuk: ingin jadi pejabat, financial freedom, punya anak yang pandai, berguna bagi orang lain, membahagiakan orang tua, merasa aman, bahagia, bahkan keinginan hidup kekal di surga. Semua karena ingin diterima, jadi pejabat supaya diterima banyak orang, financial freedom supaya banyak waktu untuk keluarga dan akhirnya diterima keluarga, punya anak yang pandai supaya dipuji tetangga, berguna bagi banyak orang supaya dipuji, bahkan keinginan hidup kekal juga karena keinginan “diterima” Tuhan.

Cara untuk mewujudkan keinginan-keinginan itu juga macam-macam: memilih pekerjaan bergaji tinggi, menempuh S2 dan doktoral, bekerja keras membangun bisnis, dan lainnya. Keinginan-keinginan ini adalah energi, semakin kuat keinginannya semakin kuat pula daya upayanya. Kekuatan energi ini tergantung pada gambaran tentang suatu objek, misalnya semakin nyata gambaran mengapa dan bagaimana saya menempuh S2, semakin berkobar-kobar pula gairah untuk mewujudkannya. Semakin sedikit alasan dan motivasi saya menempuh S2, semakin bleret pula semangatnya.

Jadi, kekuatan energi itu bukan pada objeknya (S2, bisnis, jabatan), tapi gambaran kita tentang objek itu. Semakin kuat gambaran objeknya, semakin menarik untuk diwujudkan, dan semakin berkobar-kobar untuk diwujudkan. Jika ini tidak terjadi, artinya kamu tidak sungguh-sungguh mengingikannya. Pilihannya hanya dua: take it or leave it, kerjakan atau tinggalkan, jangan setengah-setengah. Kalau kamu tidak sungguh-sungguh pedekate sama doi, ya sudah, perkuat motivasi dan usaha atau lepaskan. Kalau kamu tiba-tiba ngelokro karena pekerjaan yang semakin padat, membuat stres, dan tidak sempat olah raga, ya ingat-ingat lagi mengapa memilih jalan itu, perkuat atau lepaskan.

“Aku sudah menjalani pilihanku, tetapi kenapa aku merasa kehilangan energi?”

Keinginan yang lemah membuat gairah lemah, keinginan yang kuat membuat gairah kuat (J. Sudrijanta, S.J, Pencerahan, 2013). Sehingga cara memperkuat gairah adalah dengan merawat keinginan. Hal ini mendorong kita untuk kembali pada tujuan awal: untuk apa aku S2? Untuk apa aku berbisnis? Untuk apa aku financial freedom? Untuk apa aku berguna bagi orang lain? Perkuat kembali alasan-alasan dari keinginan itu.

Jawaban dari pertanyaan itu harus semurni mungkin. Misalnya ingin kaya supaya dihormati orang, meskipun sudah kaya tetapi tidak mendapat penghormatan, selesai sudah – habis. Kuliah tinggi supaya diapresiasi orang, meskipun sudah doktor tetapi tidak dapat apresiasi, selesai sudah – habis. Kemurnian motivasi itu menjadi penguat saat kebosanan, kelesuan, frustrasi melanda, sehingga meskipun pekerjaan, kuliah, sekolah semakin padat, konflik dengan teman semakin membuat gila, kamu punya pegangan yang kuat karena memiliki motivasi (keinginan) murni.

Kalau paradigma “aku menjalani karena ingin ku” maka segalanya tidak lagi berat, sehingga sekalipun beban sungguh berat, karena dijalani dengan visi (tujuan) yang jelas, keberatan itu jadi ringan. Akhirnya, kita masih sempat tertawa, nonton film, pacaran, baca buku, olahraga, melakukan hobi, dan jalan-jalan. Pekerjaan beres, hidup bahagia dan merdeka. AMDG.

Salam,
Yohanes Bara – yohanesbara@gmail.com