buzzer

Barawidya.id – Bicara buzzer, kita flashback sejenak ke 2016, tepatnya saat pemilu Amerika Serikat yang memenangkan Donald Trump atas Hillary Clinton, kemenangan yang mengejutkan banyak orang. Sebab, sebagai pebisnis, Trump dianggap tak sepadan dengan rekam jejak panjang seorang Hillary dalam dunia politik.

Dalam era inilah istilah buzzer dikenal, khususnya di dunia politik. Buzzer atau pendengung secara etimologi berarti lonceng, bel, atau sirine sebagai alat mengumpulkan banyak orang di satu tempat untuk menyampaikan informasi. Istilah buzzer kemudian digunakan dalam konteks media sosial sebagai orang yang mempromosikan, mengkampanyekan, atau mendengungkan sesuatu, baik itu produk atau isu tertentu melalui postingan di akun media sosialnya.Sederhananya, buzzer bisa disamakan sebagai seorang pemasar.

Namun, sejak pemilu AS 2016, istilah buzzer lebih condong pada pemasar kandidat pemilu. Tak hanya makna yang menjadi sempit, buzzer juga diasosiasikan sebagai pemasar kandidat pemilu dengan cara “curang” seperti Trump atas Hillary.

“Tentara” buzzer kemenangan Trump berasal dari Veles, Makedonia Utara. Di kota kecil ini, milenial Makedonia memproduksi jutaan berita bohong atau hoax yang menyerang Hillary secara masif. Diantaranya adalah “berita” yang mengatakan Hillary merupakan seorang pedofilia dan pro ISIS, juga berita bohong bahwa Paus Fransiskus mendukung Trump.

Menanggapi masifnya produksi hoax, Barack Obama dalam sebuah pidatonya bahkan mengatakan bahwa sangat banyak berita bohong yang dikemas dengansangat baik, sehingga terlihat sama di Facebook dan televisi Anda. Hal ini senada dengan kata budayawan Goenawan Mohamad bahwa kebohongan yang terus menerus diulang-ulang akan dipercayai sebagai kebenaran.

Menelusuri industri berita bohong di Makedonia, kita akan menemukan fakta yang mengejutkan. Pertama, industri hoax di negara tersebut digerakan oleh anak-anak usia belasan tahun. Kedua, jumlah engagementhoax di Facebook dalam kurun Mei 2016 hingga jelang hari pemilu AS mencapai 8,7 juta, sedangkan berita arus utama hanya 7,3 juta. Ketiga, pedapatan seorang remaja produsen berita bohong bisa mencapai $ 100,000 atau setara Rp 1,4 milyar per bulan.

Melalui kanal Youtube AJ+, Mirko Ceselkoski, seorang konsultan internet marketing dan Facebook Strategist di Makedoania, mengaku mendukung Trump dengan melatih ratusan anak muda memproduksi fake news bagi warga Amerika Serikat. Cara kerjanya adalah: Pertama, buatlah website sederhana menggunakan platform seperti Wordpress. Kedua, gunakan nama domain yang mudah dipahami sebagai nama organisasi berita Amerika, seperti usenewsflash.com dan usaonlinepolitic.com. Ketiga, buat berita bohong dan duplikasi ke banyak situs. Keempat, beli iklan Facebook yang mengarahkan penggunanya ke situs fake news itu. Kelima, pasang jasa iklan seperti Google AdSense di masing-masing situs agar mendapatkan pendapatan iklan dari pengunjung. Lebih lanjut, Mirko Ceselkoski juga memberi tips agar setiap konten menjadi viral dengan cara membuat judul berita dan gambar yang mengejutkan.

Sebagai pemilik platform yang dianggap paling bertanggung jawab atas penyebaran hoax, Mark Zuckerberg pda 18 November 2016 di laman Facebooknya menuliskan bahwa dampak dari berita bohong sangat serius dan ia berjanji untuk menguatkan deteksi berita bohong dan membuat pelaporan atas berita bohong semakin mudah. Namun kenyataannya tidak semanis kata-katanya, Boris, seorang buzzer, di kanal Youtube AJ+, mengatakan bahwa platform media sosial seperti Facebook lebih mengedepankan kepentingan bisnis ketimbang penangkalan hoax.

“Dua minggu sebelum pemilihan, harga iklan untuk kata kunci Trump hanya $ 0,04 sen per like, sedangkan untuk kata kunci Hillary seharga $ 50 sen per like,” kata Boris. Sehingga, pada kenyataannya, industri bisnis data seperti Facebook memang lebih memanfaatkan polemik politik untuk keuntungan mereka.

Boris berkata, “Jika orang Amerika suka wine, kami beri wine, jika orang Amerika suka air, kami beri air, jika merek suka berita bohong, kami berikan.” Bahkan, orang semacam Boris dan Mirko tetap akan melakoni hal yang sama pada pemilu AS 2020. “Kami tetap melakukannya tetapi dengan metode yang berbeda, karena kami juga terus mempelajarinya,” kata Mirko. Sehingga, jamak kita temui gelombang hoax di kemudian hari, termasuk di Indonesia.

Menjelang pemilu April 2019 yang mempertemukan Jokowi dengan Prabowo untuk kedua kalinya, istilah buzzer mencuat hebat. Terjadi peperangan digital yang membabi buta dari kedua pihak. Mulai dari Jokowi PKI, Prabowo pro kelompok radikal, pelanggaran HAM Prabowo, Jokowi antek asing dan aseng, hingga serangan pada ranah-ranah personal yang tak masuk di akal.

Setiap hari, lini masa dipenuhi dengan berita-berita bohong yang semakin liar sampai menjelang pemilu. Sebagian masyarakat menarik diri dari keliaran itu, kebanyakan lain terlanjur percaya atas kebohongan kedua pihak yang terus menerus didengungkan. Namun, dampak bagi semua orang adalah terjadinya polarisasi permusuhan.

Meski pemilu sudah usai, buzzer kedua pihak masih berperang opini di lini masa. Bahkan, Majalah Tempo edisi 28 September 2019 di kolom opininya menggugat keras Jokowi melalui judul Saatnya Menertibkan Buzzer, dengan kalimat pembuka “Jokowi harus mengendalikan pendengungnya, yang makin lama makin ngawur. Berpotensi merusak demokrasi”. Dengan menerbitkan opini semacam itu, media arus utama seperti Tempo sekalipun dicap juga sebagai buzzer.

Sehingga, istilah buzzer menjadi semakin ngawur, diartikan sebagai musuh digital. Pokoknya, siapa saja yang berpendapat berbeda di lini masa disebut buzzer, terlepas dari narasi apa yang disampaikan. Padahal, seperti makna aslinya, buzzer yang notabene sebagai pemasar, tak melulu bicara narasi politik saling tuding.

Di era internet seperti saat ini, siapa saja bisa memberitakan apa saja, dengan cepat dan tidak terbatas ruang dan waktu. Demikian juga dalam hal menjadi buzzer kebaikan. Contohnya, Greta Thunberg, remaja 16 tahun asal Swedia, yang lantang menyebarkan narasi tentang perubahan iklim dan kemudian menjadi gerakan demonstrasi besar-besaran anak-anak remaja di banyak negara.

Di Indonesia, gerakan Perempuan Berkebaya, mereka buzzer kelestarian budaya. Ada kelompok pemuda Gusdurian, mereka buzzer gerakan toleransi dan keberagaman. Lebih luas lagi, ada buzzer sastra anak, konservasi sungai, musik dan permainan tradisional, sastra kuno, budaya, nasionalisme, dan ragam lainnya.

Buzzer tak boleh diartikan sempit sebagai alat penggiring opini politik. Buzzer yang berati pendengung, mestinya menjadi pendengung seperti lebah, yang membawa tanda bahwa di dekat dengungan itu ada madu yang manis dan nikmat. Dengan mendengungkan berita baik, kita memberi tanda bahwa di dekat kita ada kebaikan dan kehidupan.

Terbit di Pusat Media Damai – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, 7 Oktober 2019

Yohanes Bara – yohanesbara@gmail.com

Tertarik pada pengembangan orang muda, isu terorisme, dan jurnalistik.
Bekerja di Majalah BASIS, UTUSAN, dan ROHANI.
Kontributor Pusat Media Damai – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.
Founder TOBEMORE Learning Center.
Mahasiswa Program Pascasarjana Magister Manajemen (SDM) – FE UAJY
.