Barawidya.id – Di buku Filosofi Teras (2019) ada yang menarik tentang kehendak untuk tidak memiliki atau kehendak untuk tidak ingin terhadap sesuatu. Ya, kehendak untuk tidak ingin. Biasanya orang selalu didorong untuk mengingini ini dan itu, ya? Ini malah sebaliknya, Henry Manampiring menganjurkan untuk berlatih tidak menginginkan sesuatu. Duh, dia mengajarkan untuk pesimis dan nrimo, sebuah sikap yang “negatif”.

Dalam buku itu, khusus pada bab empat tentang Dikotomi Kendali, Henry memang banyak bicara tentang faktor eksternal dan faktor internal dalam hidup, sederhananya adalah hal-hal yang bisa dikendalikan dan tidak dapat dikendalikan. Hal-hal dalam kendali adalah perasaan dan sikap, sedangkan yang di luar kendali adalah penilaian dan sikap orang lain. Pada kedua hal itu, banyak orang sering terbalik-balik, misalnya meletakkan rasa bahagia pada penilaian orang lain terhadapnya, atau menghitung jumlah like di Instagramnya sebagai ukuran bahagia.

Nah, oleh sebab itu, banyak orang terjebak agar dapat diterima, dihargai, dan diapresiasi (kebutuhan dasar manusia), melakukan hal-hal dengan ukuran masyarakat: pekerjaan yang keren itu PNS atau di bank, menikah usia 25-an, punya kendaraan, rumah bagus, liburan ke luar negeri, dan “standar” lain yang dipakai untuk “menerima” orang lain. Karena diterima adalah kebutuhan pokok manusia, maka orang umumnya mengejar standar hidup sesuai tuntutan masyarakat. Lebih parahnya, media sosial membuat orang tak lagi bersaing dengan tetangga yang dapat mereka longok dari jendela rumah, media sosial membuat orang bersaing dengan tak terbatas orang lainnya di media sosial. Mereka tak lagi membandingkan diri dengan teman sekolah, teman kerja, tetangga, tapi bisa membandingkan diri dengan penyanyi Katy Perry di Amerika, Song Joong-ki dari Korea, atau Atta Halilintar. Lewat media sosial, banyak orang dibuat ngiler dengan apa yang dipakai, dimakan, dan dikunjungi oleh para penghuni jagat maya itu.

Maka apa yang ditulis di Filosofi Teras untuk berlatih tidak menginkan sesuatu bukanlah menghindari hal-hal yang dibutuhkan, tetapi menolak yang sudah berlebihan. Terhubung dengan internet full speed 24 jam sepanjang minggu, membuat saya bebas akses apapun tanpa khawatir tagihan prabayar. Maka saya bisa nonton streaming apa saja kapan saja, download apa saja, termasuk nonton Youtube kapan saja. Salah satu yang rajin saya ikuti adalah channel Deddy Corbuzier, awalnya saya merasa apa yang ia sampaikan menarik dan memotivasi dan untuk itu saya terus mengikuti video-video barunya, bahkan mengikuti polemiknya bersama Reza Arap, Hari Jisun, Lucinta Luna, hingga yang terakhir polemiknya dengan pilot Vincent Raditya.

Saya mengalami FOMO (Fear of missing out), rasa takut ketinggalan informasi. Konten Deddy membuat saya ketagihan dan terus menontonnya, saya merasa perlu untuk tahu dan merasa cemas kalau tidak tahu berita terkininya. Kemudian saya merasa kebiasaan nonton Youtube ini sudah berlebihan, sangat menyita waktu dan pikiran. Terlebih kok rasanya bodoh sekali mengikuti konten-konten yang mungkin penting itu tapi jelas tidak saya butuhkan itu. Tapi apakah penting dan butuh melihat Deddy berkelahi dengan Lucinta Luna? Saya seperti baru terbangun dari hipnotis, saya tidak sadar sudah memilih yang tidak saya perlukan. Sejak itu, saya unsubscribe cukup banyak channel yang tidak saya perlukan. Awalnya merasa cemas karena tidak ada lagi notifikasi video terbaru, tapi lama-lama kok biasa saja, dan ternyata saya baik-baik saja tidak nonton konten-konten yang bisa menjadi sampah di kepala saya.

Ajakan untuk tidak menginginkan sesuatu adalah ajakan untuk kembali waras, tidak terjebak pada pilihan-pilihan yang tak perlu, tidak terjebak pada galau-galau yang tak penting dan tak perlu, tidak berambisi pada hal-hal yang berlebihan dan sebenarnya tak perlu juga. Pengalaman lain adalah ketika saya punya ambisi untuk mengikuti Apostleship of Prayer Asian Conference, yaitu badan khusus yang menyebarkan doa harian dan bulanan Paus ke seluruh dunia. Pada 2015 saya mengikuti pertemuan itu bersama perwakilan negara se Asia, dan tahun-tahun berikutnya diadakan di berbagai negara. Setiap perhelatan saya selalu punya ambisi untuk bisa diutus oleh kantor untuk mengikutinya, tapi setiap kali kesempatan itu tidak datang saya menjadi kecewa.

Tahun ini pertemuan diadakan di Vatikan, Roma, dengan delegasi seluruh dunia. Bahkan, seorang rekan kerja yang mengurus keberangkatan Rm Sindhunata, SJ dan Rm John, SJ mengabari Rm Sindhunata tentang email yang ia dapat dari Rm Frédéric Fornos, SJ, direktur internasional, bahwa delegasi Indonesia akan diupayakan bertemu Holy Father (Paus Fransiskus).

Bekerja sebaik-baiknya sepenuhnya berada pada kendali saya, tapi perutusan untuk tugas ini atau itu sama sekali bukan kendali saya. Karena kesadaran ini, saya mengambil sikap untuk “tidak menginginkan” diutus dalam pertemuan itu, karena termasuk yang di luar kendali saya. Maka, ketika mendengar kabar kedua Romo pendamping saya itu akan bertemu Paus Fransiskus, saya biasa saja, turut senang tapi tidak kecewa.

Tidak menginginkan sesuatu yang di luar kendali adalah sebuah latihan untuk menjadi manusia merdeka. Tahapannya memang dimulai dari menyetop candu-candu yang selama ini dilakukan. Misalnya: nonton Youtube berlebihan, khususnya yang tidak penting dan tidak perlu, mengurangi unggah hal-hal tidak penting di media sosial, beli barang-barang konsumtif, hobi-hobi yang tidak produktif, ambisi-ambisi yang tidak murni.

Untuk itu keterampilan asas dasar atau keterampilan memilih mana sarana mana tujuan menjadi penting untuk dilatihkan. Mesti menentukan tujuan yang jelas dan menganalisa sarana atau cara apa saja yang dapat mengantar ke tujuan itu. Jika dalam perjalanan sebuah sarana itu mendukung, maka dapat terus digunakan, tetapi jika menghambat, harus dibuang.

Yohanes Bara
Pringgokusuman, 19 Juni 2019